Showing posts with label Nostalgila. Show all posts
Showing posts with label Nostalgila. Show all posts
Images : tipsiana.com

 72 tahun sudah Indonesia merdeka, tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya pesta perayaan hari kemerdekaan ini selalu disambut meriah penuh suka cita oleh seluruh rakyat Indonesia. Pada sepanjang jalan, setiap sekolah dan kantor dipenuhi atribut bendera merah putih, sebagai bentuk pernyataan Indonesia telah merdeka dengan ikut memeriahkan perayaan ulangtahun kemerdekaan Republik Indonesia.
Berbagai lomba digelar pada seluruh pelosok tanah air. Baik itu disetiap sekolah, RT/RW dan disetiap komplek perumahan. Diantara lain lomba balap karung, lomba makan kerupuk, lomba panjat pinang, lomba bawa bola pingpong dengan sendok, memasukkan paku kedalam botol dan banyak lagi perlombaan untuk memeriahkan ulang tahun negara ini.  Diantara kesemua lomba tersebut, yang paling menghibur dan paling familiar adalah lompa panjat pinang, balap karung dan disusul lomba makan kerupuk. Lomba panjat pinang adalah perlombaan yang membuat penonton menuai gelak dan tawa. Namun tahukan kita fakta tentang perlombaan – perlombaan tersebut.?
Images : tipssiana.com
Mari kita kembali menelusuri napak tilas sejarah perjuangan rakyat Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Seperti yang dilansir dari web tipsiana.com, sebenarnya perlombaan-perlombaan untuk memeriahkan hari kemerdekaan telah ada sejak zaman Belanda.  Dahulu orang-orang Belanda pada masa penjajahan, setiap tahunnya sering mengadakan berbagai perlombaan, bukan pada tanggal 17 Agustus, melainkan tanggal 31 Agustus tepatnya untuk memperingati hari ulang tahun Ratu Wilhemina, Ratu kerajaan Belanda pada masa itu.
Perayaan ulang tahun Ratu Welhimina tidak hanya dimeriahkan di negara Belanda saja, melainkan seluruh jajahan negeri termasuk Indonesia Belanda turut memeriahkan perayaan ulang tahun sang Ratu. Oleh pemerintah Belanda diperkenalkanlah berbagai macam perlombaan diantaranya lomba panjat pinang. Pada perlombaan ini, dimana sebuah batang pinang di tegakkan, dilumuri sabun dan pada puncaknya di berikan hadiah berupa beras dan baju. Namun, selama perlombaan digelar, tidak satupun orang Belanda yang mengikuti perlombaan ini, melainkan warga pribumi bertungkus lumus, memanjat batang pinang yang licin untuk memperebutkan hadiah. Karena selama perlombaan tidak satupun orang Belanda yang ikut, mereka hanya tertawa sambil mengolok-ngolok melihat warga pribumi saling pijak untuk mendapatkan sekarung makanan dan pakaian yang diletakkan pada puncak pinang.

Menurut Asep Kambali, Komunitas Historia Indonesia, melakukan riset tentang asal mula panjat pinang digelar. Dari hasil riset pada koleksi museum Tropen, Belanda, ia mendapati ternyata panjat pinang sebenarnya adalah adaptasi dari permainan serupa asal Belanda yang bernama "De Klimmast" yang berarti panjang tiang. Mereka mengadakan lomba panjat tiang sebagai hiburan pada perayaan-perayaan hari besar.
Sementara lomba balap karung diadakan pada waktu itu juga, demi mengolok –olok warga pribumi. Lantaran warga pribumi yang miskin menderita hingga tidak bisa membeli pakaian dan hanya memakai pakaian yang terbuat dari kain goni. Untuk lomba makan kerupuk, sejatinya mengingatkan kita, sulitnya hidup pada zaman penjajah menjadikan warga pribumi hanya bisa makan dengan kerupuk yang dijadikan sebagai lauk.
              
Images : tipsiana.com
  Walau sebagian lomba yang diadakan adalah adopsi dari peninggalan Belanda. Tak ada salah nya jika kita dapat mengambil sisi positif dari setiap perlombaan yang diadakan. Sisi positif itu adalah memupuk rasa persaudaraan antar warga, melatih hidup gotong royong juga kerja sama antar masyarakat. Disamping itu untuk anak-anak juga dapat menanamkan rasa nasionalismen terhadap tanah air dengan terus mengingat hari kemerdekaan Republik Indonesia.


Beginilah kisah nya, menyambung cerita kemaren tentang antusianya keponakan bertanya tentang kisah ku saat orientasi di awal menjadi putih abu-abu. Dan akhirnya aku pun menginjakkan kaki di tanah koto baru ini, sekolah berasrama dengan sejuta kenangan. Sebuah sekolah bernama Madrasah Aliayah Negeri  di desa koto baru Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Di desa yang terletak pada perbatasan antar kota Bukit tinggi dengan Padang panjang, kurang lebih 10 kilometer ke bukititnggi dan kurang lebih 10 kilomater ke kota padang panjang. Madrasahku ini elok letaknya berada di tepi jalan lintas sumatera. Sungguh banyak kenderaan yang berlalu melintasi jalananan ini, Truk besar yang kami sebut puso dan hendak mengantarkan barang ke provinsi lain bahkan untuk keJakarta juga melewati sekolah kami, kawan nak ke Padang pun juga melewati  jalanan ini. Nan membuat cantik desa ini di apit oleh dua buah gunung nan menjadi ikon sumatera barat, gunung merapi  disebelah timur dan gunung singgalang di sebelah barat, kedua gunung yang saling berhadap-hadapan menambah indahnya panorama desa ini. Apalagi di tambah dengan udara nan sejuk serta hawa berkabut di pagi hari.
 Dan next cerita kita berlanjut, padahal awalnya mau cerita soal masa orientasi siswa ketika saya di aliyah, tapi kok malah cerita dari zaman krucil.. tapi tak apalah, ini adalah muqadimah atau titik awal aku melangkah menuntut ilmu menuju ke sumatera barat. Ini lah sebab musabab ngapa aku  nya punya keinginan kuat untuk sekolah  Agama di Padang sana.
Hal ini bermula ketika ketekunan ku belajar agama di Madrasah Diniyah Awaliayah (MDA) masjid At Taqwa di jalan Sumatera itu, pemahaman agamaku agak sedikit lebih banyak di bandingkan dengan taman- teman di sekolah. Setiap minggu pagi, pas acara didikan shubuh, aku selalu tampil kedepan : pidato, kalo tidak jadi Mc,  Kalo tidak baca hafalan surat pendek. Konsep pidato untuk aku yang seukuran anak SD udah bikin sendiri itu luar biasa,  nyontek di belutin khutbah jum’at yang selalu di bawa ayah. Berbagai macam lomba aku ikuti saat masih di MDA,mulai dari lomba : pidato, praktek sholat, hapalan surat pendek,hafalan do’a harian, karena setiap acara hari besar Islam Mesjid kami selalu mengadakan berbagai macam lomba. Aku juga sering di utus untuk mengikuti lomba antar mesjid yang biasa nya di adakan di Mesjid Raya untuk sekota Tanjungpinang. Berbagai prestasi aku ukir saat itu di zaman SD, di tambah lagi prestasi di sekolah tak pernah keluar dari rangking tiga besar di kelas. Namun masa – masa kegemilangan itu nampaknya hanya sebatas zaman sekolah dasar. 
Nah,karena sepertinya aku lebih minat pada bidang agama, maka saat itu di kota Tanjungpinang ini, geliat agama tidak seperti sekarang, dulu nya belum ada pondok pesantren. Yang ada di Jawa atau pun di sumatera, tapi nampaknya, Ibuku gak akan rela anak nya baru tamat SD di lepas jauh-jauh. Sekolah Islam terpadu seperti SMP IT saat ini pun dulu nya belum ada. Makanya keinginan satu – satu nya ketika itu adalah masuk MTs N (Madrasah Tsanawiyah ).  Teman – teman di SD tak ada yang minat masuk ke Mts ini, apalagi teman di MDA, hanya aku seorang sahaja yang minat, padahal aku anak juara lah istilah nya pada waktu itu, tak lepas dari tiga besar di kelas walau tak juara umum,di kenal sebagai anak juara. Semua terheran-heran karena Mts ini adalah tempat anak – anak buangan istilah nya, anak – anak dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) rendah dan tak jebol masuk SMP negeri, maka  masuklah mereka ke Mtsn ini.
Baru saja nonton tentang sang pemimpi di trans tv,teringat masa 15 tahun yang lalu saat masih mengenakan putih abu-abu, pas pula dua hari yang lalu ponakan cowok main kerumah dan  betapa senangnya dia bercerita karena sebentar lagi seragamnya akan berubah menjadi putih abu-abu, yang paling membuat gembira adalah keterimanya dia SMA favorit/unggulan di kota kami dengan itu akan mengantarkan cita – cita nya untuk menjadi seorang dokter. Tak pelak saat itu dia bertanya tentang masa orientasi siswa (MOS) di saat aku sekolah dulu, maka mengalirlah alunan cerita indah, suka duka selama menjalani masa-masa kehidupan diasrama  dari lisan ini, yang menjadi kenangan tersendiri bagi ku.
Akan sangat disayangakan, jika kisah itu hanya keluar dilisan sahaja,maka alangkah baiknya jika setiap  episode penggalan sejarah hidup, suka maupun duka, di ukir oleh tinta sejarah supaya dapat di baca anak cucu nantinya. Nah berhubung, kegiatan isi mengisu blog lagi mandek alias kehabisan ide, padahal udah ada judul- judul yang mau di tulis duluan seperti tour kami ke sumatera barat dua bulan lalu yang belum rampung : danau kembar,  Jalan cubadak, Ikan larangan dan banyak lagi, tour ke kebatam juga. Tapi nampaknya cerita tentang sekolah begitu menggebu ingin di tuangkan, maka jadilah malam ini aku kembali lembur untuk bercerita.
Nah simak baik-baiknya …
Sedikit tentang masa kecil, aku lahir dan di besarkan di sebuah kota kecil di pelosok pulau daerah provinsi Riau bernama Tanjunpinang, semasa aku lahir pada tanggal 26 Desember tahun 1983 jam 10 pagi di Rumah sakit Umum daerah, pada saat itu  sedang ada peresmian Tanjungpinang menjadi KOTIP (kota adminstratif)  dan peresmian  gedung kacapuri, jadi sebenarnya saat pemerintah mengadakan peringatan hari kotip tanjungpinang, bersamaan dengan hari lahir ku dan usia kotip tanjungpinang juga seuisia umurku.. (abaikan saja)