Showing posts with label Curcol. Show all posts
Showing posts with label Curcol. Show all posts

Beberapa hari  terakhir ini ada yang sedikit mengganjal dipikiranku, perihal pelajaran Anak-anak disekolah. Sebenarnya bukan saja soal pelajaran namun hal ini juga menyangkut wali kelas anak-anak. Jadi kisahnya begini. Kedua anakku kan tahun ini sama-sama duduk dibangku kelas tiga. Mengapa mereka bisa setingkat sebaab jarak umur terpaut hanya satu tahun.(sebenarnya soal ini pembahasanya panjang lagi, nanti dilain kesempatan akan kutulis kisahnya).

Sulung atau Sikakak dikelas 3A sementara Sang Adik, atau Sinomor dua dikelas 3B. Walikelas 3A masih muda, terpaut beberapa tahun dibawahku, sementara walikelas 3B seorang Ibu guru yang hampir mendekati masa pensiun. Soal komunikasi dan cara belajar tentu berbeda antara bu guru muda dan bu guru yang hampir pensiun. Dari segi kumunikasi contohnya, Wali kelas 3 A punya inisiatif membuat whatsapps grub khusus orangtua murit kelas 3 A. Segala informasi perihal libur, ujian dan lain-lain untuk mengingatkan kembali di informasikan di grub WA, begitu juga jika anak tidak masuk sekolah bisa meminta izin cukup melalu pesan  whatsaaps ataupun via telpon.   

Sementara Wali kelas 3B, tidak membuat whatsapps grub, jika anak izin ataupun sakit tetap orang tua harus membuat surat izin kesekolah dengan menyertai amplop. Jika begini jadi ingat jaman sekolah dulu . Belum lagi, jika ada masalah-masalah Anak-anak disekolah, jumpa dengan guru B jadi bikin Aku agak sedikit keki, di ajak ngobrol nya hanya sambil jalan, jadi bikin Aku rada gimana gitu, seingatku belum pernah Aku di persilahkan duduk oleh walikelas B. Karena agak kurang komunikatif , jadi soal pelajaran anak-anak Aku bertanya ke gura A via Wa. Termasuk pelajaran soal pembagian seperti ini :

Akupun Wa ke guru A. Barangkali oleh Wali kelas A disampaikan ke walikelas B. padahal niat hati mau nanya saja, mengapa baru kelas tiga sudah jauh pelajaran pembagian. Nyatanya pertanyaanku via wa ke guru A berbuntut panjang. Gegara Wa itu Sinomor dua dikeluarkan dari kelas setiap pelajaran matematika. Dengan alasan nanti “ortu Atqa akan komplen”.  Sekali, duakali hingga kali ketiga setiap pelajaran matematika Atqa dikeluarkan dari kelas, Akupun menemui walikelas B, guna meminta penjelasan mengapa Atqa dikeluarkan dari kelas saat pelajaran matematika. 
Siang itu,saat anak-anak lagi belajar Aku diperlisahkan masuk dikelas,. Tanpa ada angku buat kududk, sambil berdiri Aku bertanya mengapa Atqa dikeluarkan dari kelas ketika pelajaran matematika.

“Maaf Bu, Saya mau Tanya, kok Anak Saya dikeluarkan dari kelas saat pelajarn Matematika” Tanyaku
“Tapi awak komplen nanti, Anak-anak dari dulu memang  Saya ajarkan begitu bla..bla blaa jelasnya”
“Sayakan hanya bertanya bu, bukan komplen’ Jawabku
“Kalau memang bertanya, mengapa awak tak Tanya langsung ke Saya” jawab beliau lagi

Akupun membantin 

“Duh bisa panjang masalahnya jika Aku jawab terus pertanyaan ibuk tua ini 
Akhirnya aku meminta maaf, dan tetap meminta sinomor dua masuk saat pelajaran matematika. Selesai menemui  walikelas B, Aku jadi berpikir  baru saja satu matapelajaran Aku protes berakibat anaku dikeluarkan dari kelas, apalagi jika semua mata pelajaran, bisa-bisa Anaku tak masuk kelas. 




Sekilas Ku lirik dia, ada binar  kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Sudah lebih dua tahun  Kami tak bertemu, terakhir Ia kerumahku dua tahun lalu sebelum Aku hamil anak keempat. Gaya bicaranya masih tetap sama  seperti ketika kami masih sama-sama berstatus mahasiswa. kalimat-kalimat motivasi yang keluar dari bibirnya. Ya, Dia tak berubah hanya saja badan kami yang berubah karena sama – sama melar. 

Dia kuajak mampir kerumah, ketika dia ke Tanjungpinang untuk melengkapi data penerimaan ASN di lingkunagn provinssi Kepulaiaun Riau.  Raut kebehagiaan terpancar dari sunggingan senyumanya. kesabarannya terbayar sudah dengan diterimanya ia menjadi ASN sebagai seorang guru di Kota Tanjungbalai Karimun Kepulauan Riau. 

Tiga tahun lalu di awal pernikahannya, dia pernah mengeluh akan rumitnya hidup yang dijalani, kadang Ia hanya mengirim pesan kekesalan dan segala macamnya tentang keluarga, suami bahkan mertua. Sebagai seorang teman tentunya Aku hanya bisa memberi saran. Tapi lama kelamaan Aku juga sering merasa jengkel akibat hanya sebagai  pelampiasan amarahnya. Sampai Aku berpikir,mengapa teman ku ini berubah 180 derajat dari yang ku kenal dulu. 

Bagiku hidupnya seperti buah simalakama. Memiliki dua pilahan yang keduanya  adalaj pilihan yang sama – saa tidak mengenaknya. Barangkali jika Aku berada diposisnya mungkin Aku juga tidak sanggup punya masalah seperti yang dia hadapi. Dia terpaksa berhenti mengajar lantaran tak ingin pisah dengan anaknya, padahal saat itu dia juga menjadi tulang punggung bagi sang ibunda yang telah renta. Dan dengan begitu juga ia akan tinggal dengan sang mertua. Kadang sempat ku inbox untuk bertanya kabar, dia selalu berkata “serahkan semua pada Allah”

Daan, kini kesabarannya terbayar,temanku lulus test cpns beda kota, suami mengizinkan anak di bawa. Setidaknya satu masalahnya selesai tidak tinggal lagi dengan mertua yang punya usaha catering dan aga sedikit cerewat.

Bismillahirahmanirrahim

Selamat pagi menjelang siang,

Aku mo buka kelas privat blogging lanjutan (fokus coding)

Buat yang minat coding, otak atik template dan ada laptop dengan koneksi internet yang bagus dan punya waktu banyak didepan laptop

Pastinya yang ingin dapat penghasilan dari internet dengan duduk-duduk depan laptop

Materinya seputar coding dan percantik tampilan blog dan code code yg tidak Aku ajarkan dikelas basic reguler juga belajar empat template yg berbeda.

Hasil dari kelas ini tentunya Kamu bisa buka jasa renov blog dan akan di ikut sertakan dalam project yang Aku kerjakan.(lempar job 😊)

Januari kemarin memang agak over load, Februari agak di stop karena mau fokus ngurusin website dan blog yang sudah kayak anak tiri.

Yang minat atau mau tanya tanya coding bisa wapri disini http://bit.ly/RahayuAsda

Merancang Resolusi Tahun 2019

Awal tahun baru, time line facebook Saya rame dengan status resolusi 2019. Karena bergabung dengan komunitas penulis tentu banyak status yang berharap bisa punya buku Solo ditahun 2019.
Bukan karena ikut-ikutan nyusun resolusi, tapi jika ingin maju tentu harus ada target yang mesti dicapai lalu, di akhir tahun evaluasi kembali apakah mimpi, rencana dan harapan sudah terealisasi.

Sebelum Saya tulis resolusi untuk tahun 2019.
Saya mau evaluasi tentang apa yang telah dicapai selama tahun 2018.
Awal tahun 2018 lalu saya memang nggak buat resolusi, waktu itu lagi hamil besar jadi terpikir saat itu hanya fokus pada proses kelahiran. Saya dan bayi sehat, maklum kan saat itu adalah kehamilan ke empat dengan riwayat 3x ceasar, mana pula sejak usia kandungan 16 minggu
Perut dibagian bawah mulai nyeri dan nyut-nyut, horor banget kaan. Alhamdulillah dokternya santai, jadi Saya nggak terlalu worry, padahal baru kemarin baca status seorang dsog jika keserinfan ceasar bisa terjadi pelengketan organ apalagi lengket plasentanya.

Ya Allah, Alhamdulillah dari hamil sampai melahirkan dan sekarang kondisi Saya baik-baik saja.

Next lanjut yaa tentang resolusi tahun 2019 Saya apa saja :

0. Punya laptop baru tentunya. Mobilitas kerja saya semakin tinggi untuk menggunakam laptop. Tentu laptop yang saya inginkan bukan hanya sekedar notebook buat mengetik. Saya perlu laptogp buat design dan edit video jadi perlu laptop dengan ram yanh besar. Mudah mudahan resekinya ada

0. Menerbitkan buku solo. Ini memang impian Saya dari dulu, hanya tak terpikir jika saat ini Saya fokus dulu menulis non fiksi padahal dari dulu impian Saya adalah seorang novelis. Tapi apa daya, nyatanya mengetik artikel saja saya masih belepotan, menulis diblog selain untuk review produk blog juga sarana saya untuk melahtih kebiasaan konsisten

0. Turun Berat Badan dan jaga kesehatan. Program ini mesti jadi prioritas apalagi sejak setelah melahirkan Khadijah anak keempat Kami. Berat badan Saya naik dratis dari 65kg sebelum hamil dan kemarin timbang ke posyandu sitimbangan suka banget bergeser kekanan diangka 75. Jika ditanya zaman gadisnya, huwaaaa jangan ditanya kalau sebelum nikah BB Saya selalu setia diangka 45kg.  Luar biasa 11 tahun usia pernikahan, berat badan bertambah 30 kg. Jadi ini sebenarnya adalah pr besar buat Saya dan minumal bb saya harus turun 20kg.

0. Membeli template premium dan konsisten mengelola zanabila.com hingga bisa menghasilkan

0. Pecah telor menang lombaa

Sepertinya iti dulu dehh resolusi Saya ditahun 2019.
Semoga terwujudd ya Allah



           Belasan tahun lalu, untuk pertama kalinya, Saya bersekolah dan tinggal diasrama. Di antar Ayah, kami berangkat dari Kota Tanjungpinang menuju Padang Panjang Sumatera Barat. Dahulu karena harga tiket pesawat masih tinggi,  Kami mesti menempuh perjalanan laut dan darat. Naik kapal fery ke Selat panjang, kemudian berganti kapal kayu ditempuh dalam waktu 12 jam menyusuri sungai Siak menuju Kota Pekanbaru. Tiba di Kota Pekanbaru, perjalanan kami lanjutkan dengan menggunakan bus antar provinsi menuju Padang Panjang Sumatera Barat. Jauhnya perjalanan dan banyaknya transportasi yang mesti dinaiki, oleh Ibu, saya dibuatkan buntalan dari kain untuk meletakkan uang yang nanti disematkan kedalam baju. Tujuannya agar uang tidak hilang atau dicuri orang, sebab saat itu saya belum punya ATM. Jadi , semua uang untuk sekolah harus dibawa.
                Zaman berganti, kini kita tidak perlu membawa banyak uang didalam dompet. Ada ATM yang bisa ditarik dimana saja dan kapan saja. Sejak meliput secara online seminar SELISIK STTP Bandung dengan tema”Revolusi Industri 4.0” saya jadi kenal dengan  istilah tersebut, berikut tahapan-tahapan industry yang tanpa kita sadari, kita telah dimanjakan dengan kecanggihan teknologi bernama internet. Contoh kecilnya saja adanya ATM, mobile dan net banking, serta toko online maupun e-comerce, membuat kita bisa membeli yang kita perlukan tanpa harus keluar rumah. Ditambah lagi adanya gofood maka lengkaplah semua kemudahan dihadapan kita. Tinggal pesan menu yang diinginkan, maka driver gojek akan senang mengantarkan pesanan. Apalagi jika kita menggunakan fasilitas Go-pay (uang elektronik), tentu akan banyak potongan-potongan harga, dan senang dong belanja banyak diskonnya.
Kehidupan saat ini tak lapas dari urusan kartu ini, kartu itu yang semuanya cukup memudahkan aktivitas manusia dalam bertransaksi. Maka bukalah dompet Anda, hitung lembar uangnya, apa lebih banyak kartu atau uang dalam dompet. Walau bagaimanapun, yang alat yang di ciptakan manusia, tetap juga kadang terjadi kesalahan yang buat  dan bisa jadi fatal bagi penggunanya.
Disini saya akan tulis rangkaian pengalaman tentang  ATM yang cukup bikin saja sedikit repot :

Pertama : Tarik Uang di ATM, Uangnya tidak keluar, tapi saldo terpotong.

Panik, itu ekspresi saya kala itu, Udah janjian sama Adam buat belanja diswalayan. Pas narik uang di ATM, uangnya ngga keluar. Telpon Ke Bank, katanya suruh tarik di ATM sesuai bank tersebut . Jadi terpaksa saya harus pergi ke bank terlebih dahulu.
Begitu juga dengan suami yang sedang diluarkota, karena semua rekening atas namanya, tetiba suami nelpon suruh saya telpon BANK,  narik uang di ATM B*A, uangnya tidak keluar saldo terpotong. Saya telpon ke bank, ada masalah pada system dan pengembalian dananya maksimal dalam 7 hari. Ribet pasti dong, apalagi jika sedang tidak ada uang ditangan.

Kedua : Kartu ATM ditelan mesin.

Niat hati mau belanja, lagi-lagi masukkan ATM. Di pencet-pencet kok uangnya tak keluar, masukkan kartu lagi sampai kartunya ketelan. Balik kanan, ngga jadi belanja gigit jari lagi. Telpon ke Bank ambil uangnya manual.

Ketiga : Nah, ini yang lumayan bikin panik. Transfer uang,  uang tidak terkirim saldo terpotong.

Ini kejadiannya baru kemarin, Suami lagi diluar kota, dan minta tolong transferkan uang. “Saya bilang nanti agak malam lah, nunggu anak-anak sudah tidur. Jadi malam itu,saya mau transfer uang ke rekening yang biasa saya gunakan buat transfer kemana-mana. Uang saya di Bank A,saya transfer ke rekening saya di Bank B, dengan mobile banking. Hampir tengah malam saya transfer, saat mau tekan kirim, muncul tulisan koneksi internet error.saya ulangi lagi, tiba-tiba muncul Saldo Anda tidak mencukupi. Kaget dong, padahal uang yang saya transfer nominalnya 6 digit. Buru – buru saya chek  rekening B, saldo masih tetap segitu, tidak ada penambahan.
Bingung, uangnya lari kemana. Mana saya juga harus transfer ke suami, hati saya nggak tenang malam itu, telpon suami, katanya coba besok urus ke Bank. Maka keesokkan hari, pergilah saya ke bank ketemu CSnya saya pikir, uang saya bisa kembali kerekening hari itu juga.
Mbak CSpun berkata
“Ibu kami buatkan dulu laporannya, karena ibu transfer beda bank, kami mesti memastikan uangnya ada dimana dan ini memakan waktu maksimal 14 hari, jika uang tersebut belum masuk ke saldo rekening Ibu bisa datang kembali”
“Apa 14 hari….???

Nah, tidak kebayangkan ribet jadinya, maka  Saya balik kanan. Sepanjang perjalanan saya jadi pikir, ribetnya punya uang tapi tidak sulit untuk ditarik. Lebih baik tarik dan transfer manual saja. Biarlah agak sedikti merepotkan. Jika begini kejadiannya tentu akan kelimpungan jadinya.






            “Hari-harinya ke warnet kak, susah dibilangin”
            “Bapaknya marah juga dianggap angin lalu”

Seorang Ibu yang duduk disebelahku terus saja bercerita tentang anaknya yang sudah kecanduan bermain game online diwarnet.
Sesekali kutimpali dengan bahaya kecanduan game online, yang tidak hanya dapat merusak kesehatan melainkan efeknya lebih dahsyat dari pada kecanduan narkoba.
Tanpa dihiraukannya ucapanku tetap saja dia nyerocos berkisah prihal anaknya yang juga sempat kena typus karena lupa makan akibat  keasyikan bermain game. Ya, memang sejatinya perempuan lebih suka didengar dari pada diberikan solusi. Hingga diakhir kalimatnya si Ibu berucap, sambil menirukan gaya bahasa kepada sang Anak.
“Mamak doakan, semoga warnetnya di gerbek polisi, nginaplan engkau dipenjara agak semalam biar jera”
Duh, duh duh.. dahsayatnya ucapan seorang Ibu, karena tak tahu harus bagaimana lagi merubah kebiasaan sang anak. Aku berdehem membatin. “jika Ibunya saja tak dihiraukan apalagi ucapan orang lain”.
Lalu dia bercerita tentang pekerjaannya sebagai tukang sapu jalan. Sesekali kembali kutimpali guna membesarkan hatinya, jika kerja sapu jalan juga menyehatkan badan.
Wanita paruh baya ini kutemui ketika kami sama – sama sedang berada disekolahan. Aku yang memang setiap hari menjemput anak – anak  pulang sekolah, sementara sang ibu tersebut datang kesekolah karena akan ada imunisasi lanjutan bagi yang belum diimunisasi.
Aku kemudian berpikir, apa yang akan terjadi dengan masa depannya nanti. Memiliki orang tua berpendidikan rendah ditambah pula tak ada teguran keras guna menghentikan kebiasaannya kewarnet. Beberapa hari lalu, ada sebuah warnet tak jauh dari tempat tinggalku di gerbek SATPOL PP karena tercium prostitusi pelajar.
Aku, dan Ibu tadi mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama menyekolahkan anak-anak kami di sekolah negeri. Sekolah milik pemerintah dan gratis.

Bersambung .. lg mentok ide