Showing posts with label Curcol. Show all posts
Showing posts with label Curcol. Show all posts

Beberapa hari  terakhir ini ada yang sedikit mengganjal dipikiranku, perihal pelajaran Anak-anak disekolah. Sebenarnya bukan saja soal pelajaran namun hal ini juga menyangkut wali kelas anak-anak. Jadi kisahnya begini. Kedua anakku kan tahun ini sama-sama duduk dibangku kelas tiga. Mengapa mereka bisa setingkat sebaab jarak umur terpaut hanya satu tahun.(sebenarnya soal ini pembahasanya panjang lagi, nanti dilain kesempatan akan kutulis kisahnya).

Sulung atau Sikakak dikelas 3A sementara Sang Adik, atau Sinomor dua dikelas 3B. Walikelas 3A masih muda, terpaut beberapa tahun dibawahku, sementara walikelas 3B seorang Ibu guru yang hampir mendekati masa pensiun. Soal komunikasi dan cara belajar tentu berbeda antara bu guru muda dan bu guru yang hampir pensiun. Dari segi kumunikasi contohnya, Wali kelas 3 A punya inisiatif membuat whatsapps grub khusus orangtua murit kelas 3 A. Segala informasi perihal libur, ujian dan lain-lain untuk mengingatkan kembali di informasikan di grub WA, begitu juga jika anak tidak masuk sekolah bisa meminta izin cukup melalu pesan  whatsaaps ataupun via telpon.   

Sementara Wali kelas 3B, tidak membuat whatsapps grub, jika anak izin ataupun sakit tetap orang tua harus membuat surat izin kesekolah dengan menyertai amplop. Jika begini jadi ingat jaman sekolah dulu . Belum lagi, jika ada masalah-masalah Anak-anak disekolah, jumpa dengan guru B jadi bikin Aku agak sedikit keki, di ajak ngobrol nya hanya sambil jalan, jadi bikin Aku rada gimana gitu, seingatku belum pernah Aku di persilahkan duduk oleh walikelas B. Karena agak kurang komunikatif , jadi soal pelajaran anak-anak Aku bertanya ke gura A via Wa. Termasuk pelajaran soal pembagian seperti ini :

Akupun Wa ke guru A. Barangkali oleh Wali kelas A disampaikan ke walikelas B. padahal niat hati mau nanya saja, mengapa baru kelas tiga sudah jauh pelajaran pembagian. Nyatanya pertanyaanku via wa ke guru A berbuntut panjang. Gegara Wa itu Sinomor dua dikeluarkan dari kelas setiap pelajaran matematika. Dengan alasan nanti “ortu Atqa akan komplen”.  Sekali, duakali hingga kali ketiga setiap pelajaran matematika Atqa dikeluarkan dari kelas, Akupun menemui walikelas B, guna meminta penjelasan mengapa Atqa dikeluarkan dari kelas saat pelajaran matematika. 
Siang itu,saat anak-anak lagi belajar Aku diperlisahkan masuk dikelas,. Tanpa ada angku buat kududk, sambil berdiri Aku bertanya mengapa Atqa dikeluarkan dari kelas ketika pelajaran matematika.

“Maaf Bu, Saya mau Tanya, kok Anak Saya dikeluarkan dari kelas saat pelajarn Matematika” Tanyaku
“Tapi awak komplen nanti, Anak-anak dari dulu memang  Saya ajarkan begitu bla..bla blaa jelasnya”
“Sayakan hanya bertanya bu, bukan komplen’ Jawabku
“Kalau memang bertanya, mengapa awak tak Tanya langsung ke Saya” jawab beliau lagi

Akupun membantin 

“Duh bisa panjang masalahnya jika Aku jawab terus pertanyaan ibuk tua ini 
Akhirnya aku meminta maaf, dan tetap meminta sinomor dua masuk saat pelajaran matematika. Selesai menemui  walikelas B, Aku jadi berpikir  baru saja satu matapelajaran Aku protes berakibat anaku dikeluarkan dari kelas, apalagi jika semua mata pelajaran, bisa-bisa Anaku tak masuk kelas. 




Sekilas Ku lirik dia, ada binar  kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Sudah lebih dua tahun  Kami tak bertemu, terakhir Ia kerumahku dua tahun lalu sebelum Aku hamil anak keempat. Gaya bicaranya masih tetap sama  seperti ketika kami masih sama-sama berstatus mahasiswa. kalimat-kalimat motivasi yang keluar dari bibirnya. Ya, Dia tak berubah hanya saja badan kami yang berubah karena sama – sama melar. 

Dia kuajak mampir kerumah, ketika dia ke Tanjungpinang untuk melengkapi data penerimaan ASN di lingkunagn provinssi Kepulaiaun Riau.  Raut kebehagiaan terpancar dari sunggingan senyumanya. kesabarannya terbayar sudah dengan diterimanya ia menjadi ASN sebagai seorang guru di Kota Tanjungbalai Karimun Kepulauan Riau. 

Tiga tahun lalu di awal pernikahannya, dia pernah mengeluh akan rumitnya hidup yang dijalani, kadang Ia hanya mengirim pesan kekesalan dan segala macamnya tentang keluarga, suami bahkan mertua. Sebagai seorang teman tentunya Aku hanya bisa memberi saran. Tapi lama kelamaan Aku juga sering merasa jengkel akibat hanya sebagai  pelampiasan amarahnya. Sampai Aku berpikir,mengapa teman ku ini berubah 180 derajat dari yang ku kenal dulu. 

Bagiku hidupnya seperti buah simalakama. Memiliki dua pilahan yang keduanya  adalaj pilihan yang sama – saa tidak mengenaknya. Barangkali jika Aku berada diposisnya mungkin Aku juga tidak sanggup punya masalah seperti yang dia hadapi. Dia terpaksa berhenti mengajar lantaran tak ingin pisah dengan anaknya, padahal saat itu dia juga menjadi tulang punggung bagi sang ibunda yang telah renta. Dan dengan begitu juga ia akan tinggal dengan sang mertua. Kadang sempat ku inbox untuk bertanya kabar, dia selalu berkata “serahkan semua pada Allah”

Daan, kini kesabarannya terbayar,temanku lulus test cpns beda kota, suami mengizinkan anak di bawa. Setidaknya satu masalahnya selesai tidak tinggal lagi dengan mertua yang punya usaha catering dan aga sedikit cerewat.

Bismillahirahmanirrahim

Selamat pagi menjelang siang,

Aku mo buka kelas privat blogging lanjutan (fokus coding)

Buat yang minat coding, otak atik template dan ada laptop dengan koneksi internet yang bagus dan punya waktu banyak didepan laptop

Pastinya yang ingin dapat penghasilan dari internet dengan duduk-duduk depan laptop

Materinya seputar coding dan percantik tampilan blog dan code code yg tidak Aku ajarkan dikelas basic reguler juga belajar empat template yg berbeda.

Hasil dari kelas ini tentunya Kamu bisa buka jasa renov blog dan akan di ikut sertakan dalam project yang Aku kerjakan.(lempar job 😊)

Januari kemarin memang agak over load, Februari agak di stop karena mau fokus ngurusin website dan blog yang sudah kayak anak tiri.

Yang minat atau mau tanya tanya coding bisa wapri disini http://bit.ly/RahayuAsda

Merancang Resolusi Tahun 2019

Awal tahun baru, time line facebook Saya rame dengan status resolusi 2019. Karena bergabung dengan komunitas penulis tentu banyak status yang berharap bisa punya buku Solo ditahun 2019.
Bukan karena ikut-ikutan nyusun resolusi, tapi jika ingin maju tentu harus ada target yang mesti dicapai lalu, di akhir tahun evaluasi kembali apakah mimpi, rencana dan harapan sudah terealisasi.

Sebelum Saya tulis resolusi untuk tahun 2019.
Saya mau evaluasi tentang apa yang telah dicapai selama tahun 2018.
Awal tahun 2018 lalu saya memang nggak buat resolusi, waktu itu lagi hamil besar jadi terpikir saat itu hanya fokus pada proses kelahiran. Saya dan bayi sehat, maklum kan saat itu adalah kehamilan ke empat dengan riwayat 3x ceasar, mana pula sejak usia kandungan 16 minggu
Perut dibagian bawah mulai nyeri dan nyut-nyut, horor banget kaan. Alhamdulillah dokternya santai, jadi Saya nggak terlalu worry, padahal baru kemarin baca status seorang dsog jika keserinfan ceasar bisa terjadi pelengketan organ apalagi lengket plasentanya.

Ya Allah, Alhamdulillah dari hamil sampai melahirkan dan sekarang kondisi Saya baik-baik saja.

Next lanjut yaa tentang resolusi tahun 2019 Saya apa saja :

0. Punya laptop baru tentunya. Mobilitas kerja saya semakin tinggi untuk menggunakam laptop. Tentu laptop yang saya inginkan bukan hanya sekedar notebook buat mengetik. Saya perlu laptogp buat design dan edit video jadi perlu laptop dengan ram yanh besar. Mudah mudahan resekinya ada

0. Menerbitkan buku solo. Ini memang impian Saya dari dulu, hanya tak terpikir jika saat ini Saya fokus dulu menulis non fiksi padahal dari dulu impian Saya adalah seorang novelis. Tapi apa daya, nyatanya mengetik artikel saja saya masih belepotan, menulis diblog selain untuk review produk blog juga sarana saya untuk melahtih kebiasaan konsisten

0. Turun Berat Badan dan jaga kesehatan. Program ini mesti jadi prioritas apalagi sejak setelah melahirkan Khadijah anak keempat Kami. Berat badan Saya naik dratis dari 65kg sebelum hamil dan kemarin timbang ke posyandu sitimbangan suka banget bergeser kekanan diangka 75. Jika ditanya zaman gadisnya, huwaaaa jangan ditanya kalau sebelum nikah BB Saya selalu setia diangka 45kg.  Luar biasa 11 tahun usia pernikahan, berat badan bertambah 30 kg. Jadi ini sebenarnya adalah pr besar buat Saya dan minumal bb saya harus turun 20kg.

0. Membeli template premium dan konsisten mengelola zanabila.com hingga bisa menghasilkan

0. Pecah telor menang lombaa

Sepertinya iti dulu dehh resolusi Saya ditahun 2019.
Semoga terwujudd ya Allah



           Belasan tahun lalu, untuk pertama kalinya, Saya bersekolah dan tinggal diasrama. Di antar Ayah, kami berangkat dari Kota Tanjungpinang menuju Padang Panjang Sumatera Barat. Dahulu karena harga tiket pesawat masih tinggi,  Kami mesti menempuh perjalanan laut dan darat. Naik kapal fery ke Selat panjang, kemudian berganti kapal kayu ditempuh dalam waktu 12 jam menyusuri sungai Siak menuju Kota Pekanbaru. Tiba di Kota Pekanbaru, perjalanan kami lanjutkan dengan menggunakan bus antar provinsi menuju Padang Panjang Sumatera Barat. Jauhnya perjalanan dan banyaknya transportasi yang mesti dinaiki, oleh Ibu, saya dibuatkan buntalan dari kain untuk meletakkan uang yang nanti disematkan kedalam baju. Tujuannya agar uang tidak hilang atau dicuri orang, sebab saat itu saya belum punya ATM. Jadi , semua uang untuk sekolah harus dibawa.
                Zaman berganti, kini kita tidak perlu membawa banyak uang didalam dompet. Ada ATM yang bisa ditarik dimana saja dan kapan saja. Sejak meliput secara online seminar SELISIK STTP Bandung dengan tema”Revolusi Industri 4.0” saya jadi kenal dengan  istilah tersebut, berikut tahapan-tahapan industry yang tanpa kita sadari, kita telah dimanjakan dengan kecanggihan teknologi bernama internet. Contoh kecilnya saja adanya ATM, mobile dan net banking, serta toko online maupun e-comerce, membuat kita bisa membeli yang kita perlukan tanpa harus keluar rumah. Ditambah lagi adanya gofood maka lengkaplah semua kemudahan dihadapan kita. Tinggal pesan menu yang diinginkan, maka driver gojek akan senang mengantarkan pesanan. Apalagi jika kita menggunakan fasilitas Go-pay (uang elektronik), tentu akan banyak potongan-potongan harga, dan senang dong belanja banyak diskonnya.
Kehidupan saat ini tak lapas dari urusan kartu ini, kartu itu yang semuanya cukup memudahkan aktivitas manusia dalam bertransaksi. Maka bukalah dompet Anda, hitung lembar uangnya, apa lebih banyak kartu atau uang dalam dompet. Walau bagaimanapun, yang alat yang di ciptakan manusia, tetap juga kadang terjadi kesalahan yang buat  dan bisa jadi fatal bagi penggunanya.
Disini saya akan tulis rangkaian pengalaman tentang  ATM yang cukup bikin saja sedikit repot :

Pertama : Tarik Uang di ATM, Uangnya tidak keluar, tapi saldo terpotong.

Panik, itu ekspresi saya kala itu, Udah janjian sama Adam buat belanja diswalayan. Pas narik uang di ATM, uangnya ngga keluar. Telpon Ke Bank, katanya suruh tarik di ATM sesuai bank tersebut . Jadi terpaksa saya harus pergi ke bank terlebih dahulu.
Begitu juga dengan suami yang sedang diluarkota, karena semua rekening atas namanya, tetiba suami nelpon suruh saya telpon BANK,  narik uang di ATM B*A, uangnya tidak keluar saldo terpotong. Saya telpon ke bank, ada masalah pada system dan pengembalian dananya maksimal dalam 7 hari. Ribet pasti dong, apalagi jika sedang tidak ada uang ditangan.

Kedua : Kartu ATM ditelan mesin.

Niat hati mau belanja, lagi-lagi masukkan ATM. Di pencet-pencet kok uangnya tak keluar, masukkan kartu lagi sampai kartunya ketelan. Balik kanan, ngga jadi belanja gigit jari lagi. Telpon ke Bank ambil uangnya manual.

Ketiga : Nah, ini yang lumayan bikin panik. Transfer uang,  uang tidak terkirim saldo terpotong.

Ini kejadiannya baru kemarin, Suami lagi diluar kota, dan minta tolong transferkan uang. “Saya bilang nanti agak malam lah, nunggu anak-anak sudah tidur. Jadi malam itu,saya mau transfer uang ke rekening yang biasa saya gunakan buat transfer kemana-mana. Uang saya di Bank A,saya transfer ke rekening saya di Bank B, dengan mobile banking. Hampir tengah malam saya transfer, saat mau tekan kirim, muncul tulisan koneksi internet error.saya ulangi lagi, tiba-tiba muncul Saldo Anda tidak mencukupi. Kaget dong, padahal uang yang saya transfer nominalnya 6 digit. Buru – buru saya chek  rekening B, saldo masih tetap segitu, tidak ada penambahan.
Bingung, uangnya lari kemana. Mana saya juga harus transfer ke suami, hati saya nggak tenang malam itu, telpon suami, katanya coba besok urus ke Bank. Maka keesokkan hari, pergilah saya ke bank ketemu CSnya saya pikir, uang saya bisa kembali kerekening hari itu juga.
Mbak CSpun berkata
“Ibu kami buatkan dulu laporannya, karena ibu transfer beda bank, kami mesti memastikan uangnya ada dimana dan ini memakan waktu maksimal 14 hari, jika uang tersebut belum masuk ke saldo rekening Ibu bisa datang kembali”
“Apa 14 hari….???

Nah, tidak kebayangkan ribet jadinya, maka  Saya balik kanan. Sepanjang perjalanan saya jadi pikir, ribetnya punya uang tapi tidak sulit untuk ditarik. Lebih baik tarik dan transfer manual saja. Biarlah agak sedikti merepotkan. Jika begini kejadiannya tentu akan kelimpungan jadinya.






            “Hari-harinya ke warnet kak, susah dibilangin”
            “Bapaknya marah juga dianggap angin lalu”

Seorang Ibu yang duduk disebelahku terus saja bercerita tentang anaknya yang sudah kecanduan bermain game online diwarnet.
Sesekali kutimpali dengan bahaya kecanduan game online, yang tidak hanya dapat merusak kesehatan melainkan efeknya lebih dahsyat dari pada kecanduan narkoba.
Tanpa dihiraukannya ucapanku tetap saja dia nyerocos berkisah prihal anaknya yang juga sempat kena typus karena lupa makan akibat  keasyikan bermain game. Ya, memang sejatinya perempuan lebih suka didengar dari pada diberikan solusi. Hingga diakhir kalimatnya si Ibu berucap, sambil menirukan gaya bahasa kepada sang Anak.
“Mamak doakan, semoga warnetnya di gerbek polisi, nginaplan engkau dipenjara agak semalam biar jera”
Duh, duh duh.. dahsayatnya ucapan seorang Ibu, karena tak tahu harus bagaimana lagi merubah kebiasaan sang anak. Aku berdehem membatin. “jika Ibunya saja tak dihiraukan apalagi ucapan orang lain”.
Lalu dia bercerita tentang pekerjaannya sebagai tukang sapu jalan. Sesekali kembali kutimpali guna membesarkan hatinya, jika kerja sapu jalan juga menyehatkan badan.
Wanita paruh baya ini kutemui ketika kami sama – sama sedang berada disekolahan. Aku yang memang setiap hari menjemput anak – anak  pulang sekolah, sementara sang ibu tersebut datang kesekolah karena akan ada imunisasi lanjutan bagi yang belum diimunisasi.
Aku kemudian berpikir, apa yang akan terjadi dengan masa depannya nanti. Memiliki orang tua berpendidikan rendah ditambah pula tak ada teguran keras guna menghentikan kebiasaannya kewarnet. Beberapa hari lalu, ada sebuah warnet tak jauh dari tempat tinggalku di gerbek SATPOL PP karena tercium prostitusi pelajar.
Aku, dan Ibu tadi mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama menyekolahkan anak-anak kami di sekolah negeri. Sekolah milik pemerintah dan gratis.

Bersambung .. lg mentok ide



Anak kedua saya usainya baru menginjak delapan tahun dan sekarang telah duduk dibangku kelas 3 Sekolah Dasar. Sebenarnya saya agak sedikit menyesal memasukkannya sekolah lebih awal, padahal waktu itu dia juga belum bisa membaca. Rupanya setelah sharing dengan seorang teman yang menjadi konsultan pada sebuah lembaga pendidikan. Bahwa anak laki-laki sebaiknya tidak usah buru-buru dimasukkan kesekolah dasar sebab matangnya anak lelaki ketika baligh.

Tapi apa daya udah terlanjur dimasukkan kesekolah, waktu itu pertimbangannya, karena tahun sebelumnya sang kakak hanya bertahan satu bulan sekolah sebab tak mau ditinggal, maka sang kakak mengulang tahun selanjutnya, adiknya juga di daftarkan kesekolah dasar agar sang kakak jadi tidak mewek.

Tahun pertama sekolah, saya kejarkan dia cepat untuk membaca, alhamdulilah terkejar dan gurunya tetap menaikkan kekelas dua. Begitu juga saat naik kekelas tiga. Namun dampak dari semua itu, Atqa begitu panggilannya sering dibuli oleh teman-temannya, ada saja ulah teman-temannya, kadang penanya yang diambil, di ejek atau dibilang anak saya punya hutang ketemannya. Sebagai orang tua pasti geram dong, beberapa kali saya menemui guru kelasnya, tapi sang guru malah menjawab anak saya baik-baik saja. Ketika menjemput kesekolah, sering sang anak tukang bully saya plototin, tapi tetap saja sikap mereka tidak berubah.

Lalu saya ceritakan kisah Ethan Hunt, untuk membesarkan hatinya serta menyemangatinya.

Ehh, ngomong-ngomong Ethan Hunt itu siapa yaaa …

Para penggemar film action seperti Mission Imposibel pasti dong kenal Ethan Hunt adalah nama peran dari Tom Cruise. Saya juga termasuk penggemar fim ini, bukan karena ketampanan Tom Cruise (cukup suami saya yang tampan wkwkwkwk .. siap siap di lempar sutil), namun aksi dalam film ini yaitu tentang dunia mata-mata (spionase) sama sukanya saya dengan Angelina Jolie dalam film Salt, konspirasi, intrik – intrik yang menegangkan. Walau terkadang banyak juga yang tidak masuk akal, seperti aksi Hunt ketika memanjat menara di Dubai dalam Rogue Nation. Dalam Film Misi yang tak mungkin Tom Cruise seperti tidak ada capeknya kuy, kaloborasi antara Hunt, Benji dan Luther bikin film ini makin oke.

Ihirr, siapa sangka jika Tom Cruise yang terkenal dengan aksi heroiknya di Mission Imposible dalam adegan-adegan berbahaya tanpa digantikan oleh stunt, adalah seorang anak laki-laki dimasa kecilnya pengidap disleksia dan sering berpindah-pindah sekolah yang membuatnya sering dibully. Merasa terancam Tom remaja menjadi suka berkelahi dan memukul siapa saja yang membullynya. Akhirnya Tom bisa bela diri. Namun karier nya dalam dunia film awalnya tak mulus, beberappa kali dia di tolak oleh produser karena badannya yang kurus. Namun Tom tak pernah patah semangat, sehingga di terima di hollywod, totalitasnya dalam bermain peran menjadikan filmnya sukses dan laku dipasaran.

Kemudian, saya ceritakan juga kisah Fisilmi Hamida penulis novel Canting yang kerap di bully karena ada tanda lahir diwajahnya. Tapi siapa sangka kini novelnya laku dipasaran dan dia melanjutkan pendidikannya ke Universita Bristol UK.

Banyak Tokoh korban bullyan dimasa depan menjadi orang yang sukses, “semoga kamu bisa sekeren Tom Cruse Nak” kata saya
Eh tapi jangan main film, tulis novel saja dan hafal Al Qur'an seperti mbak Fisilmi Hamidah




Untuk saat ini media sosial  tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Segala aktiivtas manusia selalu terhubung dengannya. Adanya media sosial orang bisa menemukan keluarga atau teman yang dicari selama ini. Sanak family bisa bertegur sapa dalam satu grub bernama media sosial. Sayangnya banyak orang beranggapan media sosial hanya digunakan untuk hal-hal bersifat negatif. Apalagi ditambah dengan viralnya isu pelakor, serta reunian sebagai cikal bakal perselingkuhan.  Memang beberapa peristiwa yang sempat viral atau mampir ditime line kita menceritakan beberapa kejadian seperti seorang istri yang rela meninggalkan anak dan suami hanya demi cinta pertamanya yang ditemui semasa reunian, atau anak-anak Abege yang dibawa kabur dengan orang dibaru kenal melalui media sosial.
Banyak hal yang bisa dilakukan dalam bermedia sosial. Hal ini sepenuhnya terpulang dari sipenggunanya itu sendiri, mau dibawa kearah positif ataupun sebaliknya. Berikut manfaat media sosial yang menolong saya ketika saya benar-benar membutuhkan.


Pertama : Media Sosial Menambah Wawasan (Edukasi).


Manfaat media sosial khususnya facebook begitu terasa, saat saya melahirkan anak ketiga. Berlangsung pada tahun 2013. Waktu itu saya sangat membutuhkan informasi terkait ASI dan tumbuh kembang Anak. Dengan adanya facebook informasi yang didapat menjadi lebih mudah, dengan bergabung dalam grub seputar ASI dan tumbuh kembang anak. Dari informasi digrublah saya kemudian menjadi tahu akan pentingnya memberikan ASI ekslusif  hingga usia enam bulan, lalu dilanjutkan dengan pemberian MPASI handmade (buatan sendiri).
Jadi selama Adam anak ketiga saya telah makan, saya tetap harus mengusahakan MPASI handmade dan menjauhkannya dari makanan pabrikan termasuk cemilannya seperti biskuit  Mil*a dan s*n.  Ini sangat berbeda sekali dengan Anak-anak sebelumnya karena minimnya informasi serta manut dengan apa yang dibilangin orang-orang, bodohnya saya waktu itu, mencampurkan pemberian asi dengan sufor, juga memberikan MPASI diusia mereka yang baru 4 bulan, apalagi dengan yang instan.  Terkadang malah roti gabin saya siram dengan teh hangat buat anak-anak. Jika ingat itu saya selalu merasa bersalah dengan mereka berdua.
Ketika  Adam sudah MPASI saya jauhkan dari makanan pabrikan selama setahun termasuk tidak memberikan air teh juga MPASI NO Gula dan Garam (maunya sih sampe usia dua tahun bahkan lima tahun, hanya sering digoda dengan jajanan Abang dan Kakaknya). Kemudian ketika Adam demam, saya tidak buru-buru membawanya kedokter, selagi masih Asi, Adam saya gempur dengan Asi, dan memeluknya skin to skin agar panasnya turun untuk membuatnya terasa nyaman. Alaminya demam akan turun selama tiga hari, karena tubuh memilik anti body. Jika demam lebih dari tiga hari, berarti ada indikasi penyakit atau infeksi lain, maka harus segera dibawa kedokter.
Begitu juga saat beberapa hari dia tidak buang air besar ketika masih Asi elslusif, saya masih tidak khawatir karena masa tenggang anak tidak pup adalah 14 hari. Semua informasi tersebut saya dapatkan ketika shering digrub facebook yang notabanenya para admin adalah mereka yang ahli dibidangnya.
Perjuangan saya agar Adam medapatkan haknya berupa ASi hingga dua tahun serta MPASI buatan sendiri tidak sia-sia. Diumurnya yang sudah genap lima tahun, hingga detik ini saya belum pernah membawanya kedokter. Beberapa kali pernah demam, cukup dengan home treatment.  Untuk buat dia merasa nyaman, palingan saya hanya memberikan inzana. Dan yang paling saya suka dari itu adalah dia suka sekali makan sayur dan buah-buahan, segala jenis buah disantapnya. Kadang dia makan semangkok sayur bayam tanpa nasi.
                Cara saya ini juga nanti akan saya terapkan buat sikecil Khadijah, walau setelah melahirkan Khadijah, payudara saya membengkak dan puting yang luka, sehingga saat Khadijah ngAsi  saya hanya meringis menahan sakit. Melihat itu, suami manawarkan sufor, langsung saya tepis sebab Khadijah juga harus mendapatkan haknya berupa Asi ekslusif. Informasi agar bayi saya ketika lahir mendapatkan IMD juga dari grub ASI, karena saya akan operasi ceasar tentu kondisi masih dalam setengah sadar. Berkat saran salah seorang member digrub Asi yang pernah bekerja menjadi perawat penyambutan bayi, akhirnya baby Khadija juga medapatkan IMD ketika saya masih terbaring  diruang operasi.
                Bagi saya, facebook memberikan manfaat besar terhadap tumbuh kembang anak-anak. Menjadikan saya teredukasi. Apajadinya jika facebook hanya digunakan buat status lebay dan narsis. Manalah lagi minimnya referensi serta keterbatasan kesempatan untuk membaca. Tentulah dengan shering dan berbagi pengalaman digrub dapat menambah wawasan juga pertemanan.

Kedua : Media Sosial Menyelamatkan Hidup


Menjelang persalinan Khadijah kemarin, dengan Hb rendah hanya 8,2 dan dokter mengintruksikan agar menyetok dua kantong darah untuk persiapan operasi esok harinya. Malam itu kami bergelirya mencari darah golongan B+. Saya menelpon kakak  untuk mendonorkan darahnya, ternyata dia tidak bisa, Abang kandung juga sedang berlibur  bersama keluarga diluar kota. Keponakan juga baru sebulan lalu ikut aksi donor darah.
Kemudian suami menginformasikan di grub whatsapp grup (media sosial), mencari yang bersedia  mendonorkan darahnya dengan golongan darah b+. Tidak sampai satu jam, suami dapat waprian dari dua orang temannya yang bersedia membantu kami. Alhamdulilah keep dua orang dan kami langsung janjian bertemu di PMI malam itu juga.
Kalau seandainya kami tidak menggunakan media sosial, tentu akan sulit mendapatkan darah dengan segera. Kami akan disibukkan dengan menelpon kesana kemari mencari pendonor darah.

Ketiga : Media sosial Adalah Sarana Aktualisasi diri.


Setiap orang butuh pengakuan, ingin dikenal sebagai apa. Makanya perlu adanya aktualisasi diri. Bagi kaum lelaki  bentuk aktualisasi diri mereka bisa berupa bekerja sesuai dengan bidang keilmuan yang dimiliki. Begitu juga perempuan pekerja kantoran, guru, dokter ataupun perawat, dapat mengaktualisasikan diri mereka dengan bekerja sesuai dengan bidangnya. Namun bagaimana dengan para Ibu yang memilih untuk menjadi Ibu Rumah Tangga  sepenuh waktunya dihabiskan mengurus keluarga. Tentu akan ada rasa jenuh yang melanda akibat rutinitas monoton didalam rumah. Bahkan Ibu rumah tangga, sebagian besar juga adalah orang-orang yang juga pernah mengeyam pendidikan diperguruan tinggi.
Maka disinilih letak pentingnya media sosial. Bagi yang memiliki hobi berdagang, tentu media. sosial dijadikan sebagai sarana untuk berjualan secara online. Penulis, blogger juga mempromosikan tulisan mereka melalui media sosial. Saya adalah ibu sepenuh waktu dengan empat orang anak. Media sosial saya gunakan untuk bisa terhubung dengan orang-orang menambah wawasan, mempromosikan tulisan juga keahlian dalam mendesain website.
Memang, tak bisa dipungkiri dibalik mudahnya komunikasi, informasi dengan sosial media ada dampak negatif yang juga sama besar dengan kemudahannya. Baik buruknya suatu teknologi, semua terpulang pada sipenggunanya itu sendiri. Semoga kita termasuk orang-orang yang bijak dalam menggunakan media sosial.


Tekwan adalah kuliner khas Palembang yang paling dicari setelah empek-empek Palembang. Makanan yang terdiri dari campuran ikan dan tepung tapioka dengan bulatan kecil-kecil menyerupai bakso, dipadu dengan soun, irisan bengkoang dan jamur kuping juga udang, dengan aroma yang menggugah selera.  Saya adalah penggemar empek-empek Palembang apalagi tekwan. Kalau lagi musim hujan, makan-makanan berkuah bening seperti tekwan, bakso dll adalah hal yang paling diminati, karena  membuat perut terasa hangat.
                Jadi ceritanya, ownernya Kreasi Dapoer Mimih, open order 100 slot untuk pemesanan –2 H lebaran untuk bakso kriwil sebagai bahan utama membuat Tekwan. Karena saya pengemar tekwan, jadi kepengen dong, buat sendiri Tekwan. Lebarankan selalu identik dengan santan, maka masak yang bening-bening pasti banyak suka. Saya juga ikutan order bakso kriwil, yang bikin horee itu  diantar alamat pula sama ownernya bunda mimih -2 H lebaran.
                Karena perut udah neg dengan yang santan. Lebaran hari ketiga, bakso kriwil saya eksekusi. Oh iya, karena bengkoang nggak ketemu, saya gunakan stok yang ada di kulkas dengan penambahan jamur kupingn dan brokoli.


Berikut resep tekwan Bakso Kriwil ala Ummi Hafizah
Untuk ¼ kg bakso kriwil saya gunakan
1.      4 siung bawang merah (digiling halus)
2.       3 siung bawang putih (digiling halus)
3.       Segenggam udang basah , (digiling halus) (kalau tidak ada udang bisa diganti dengan ebbi)
4.       Jamur kuping, brokoli, daun sop dan bawang goreng

Cara membuat :

Pertama : tumis bawang putih, dan bawang merah yang sudah digiling halus, setelah tercium aroma bawangnya, masukkan udang yang telah di giling tadi. Setelah menyatu bawang dan udang, masukkan air (saya kira-kira saja sesuai keinginan untuk 5 porsi). Lalu masukkam bumbu halus (khusus bumbu tekwan).
Kedua : setelah mendidih, masukkan bakso kriwil juga bahan pelengkap lainnya. Tunggu beberapa menit, lalu matikan api. Tekwanpun siap dihidangkan.

                
Ternyata, bikin tekwan nggak serumit yang dibayangkan yaa .. mudah kok, apalagi bakso kriwil juga udah tersedia, jadi kita tinggal tambahin pelengkapnya saja, seperti bengkoang dan kawan-kawannya. Oh iya, satu lagi mengapa saya belinya sama bunda mimih, karena udah ada label halal dari MUI nya lho, jadi kita nggak perlu kuatir lagi. Kemudan tekstur baksonya juga kenyal dan lembut, itu menandalan baksi ikan kriwil tidak pakai pengeras atau bahan kimia lainnya. Dan khas ikan tenggirinya begitu terasa dilidah. Jadi tekwannya nendang abiss dahh …

                Selain untuk tekwan bakso kriwil juga bisa sebagai pelengkan masakan lainnya, untuk campuran mie instans juga sedaaapp. 



Oh iyaa, kalau mau order bisa hubungi ownernya langsung bunda mimih dan untuk wilayah Tanjungpinang tersedia di swalayan Al Baik Km. 8 Tanjungpinang.


Masih rangkaian drama post partum ya, yang membuat saya menjadi seorang yang perasa, mudah baper juga suka mewek dengan sendirinya. Seperti yang saya bilang kemarin bahwa tak banyak perempuan yang berani melahirkan secara ceasar untuk keempat kali, dan saya adalah satu di antaranya. Sejak lahiran, beberapa teman wapri menanyakan  ini itu yang berhubungan soal kelahiran sc keempat. Kebanyakan yang nanya adalah mereka yang sudah melahirkan secara ceasar juga sebanyak tiga kali.
Karena akan empat kali ceasar, dokter menyarankan untuk sterilisasi atau tubektomi. Dan pemotongan indung telur itu dilakukan juga saat operasi berlangsung. Tapi akan beresiko seandainya saya hamil kembali. Akhirnya atas izin suami, saat operasi berjalan, setelah bayi  keluar, dokter langsung melakukan sterlisasi dengan memotong saluran tuba falopi.
Nah, sampai disini klop ya, saya SC 4 kali, lalu di steril oleh dokter sebagai upaya mencegah kehamilan. Kemudian adik tingkat waktu kuliah dulu, juga wapri dan tanya macam-macam. Maka sampai lah pada pertanyaan dan pernyataan model begini.

                Setelah baca chatnya, saya langsung pengen ngulek caber rawit, buat dilomotin ke jempolnya. Sambil bilang
Halloooo, Kk baru siap lahiran lho, bayi juga masih ON begadang malam, punggung, pinggang pegal, payudara udah membengkak dan perih tak terkira. Jangan kamu tambah penderitaanku ini dengan ucapan tak bersalahmu
Tapi, ya sudahlah tak saya balas chatnya. Untung post partum tak sampai pada level depresi. Jadi pikiran dan perasaan saya masih tetap pada taraf normal. Ya udah gitu aja. Pelajaran buat kedepannya, tidak semua harus di omongkan ke orang lain. Belajarlan untuk melihat situasi dan kondisi serta berusaha untuk selalu membesarkan hati orang-orang sekitar. Jika tak bisa membantu cukup tahan lisanmu dari membuat kecil hati saudaramu.

Baca Juga :

             
Kata orang, perjuangan seorang Ibu dari sejak hamil, hingga melahirkan itu berat, hanya perempuan yang kuat menjalaninya. Akan tetapi bagi saya, dari semua  drama kehamilan hingga proses persalinan, ada yang tak kalah horornya yaitu postpartum atau bahasa umumnya kondisi para emak setelah selesai melahirkan. Lho kok dikatakan horror, bukankan si emak bakalan senang lihat jabang bayi dah brojol, lalu segala kepayahan yang dirasakan selama hamil sirna sudah. Senang memang, siapa sih yang tak senang melihat chubynya pipi sikecil. Namun karena perubahan hormonal ditambah lagi dengan siIbu harus beradabtasi dengan bayi baru, hal itu menjadikan postpartum terkesan horror.
                Setelah melahirkan, perempuan akan mengalami beberapa perubahan dalam tubuhnya baik fisik maupun psikis, hal itu berlangsung hingga 6 minggu pasca persalinan, menunggu semuanya kembali normal. Perubahan fisik tentunya adalah turunnya berat badan, hal ini disebabkan bayi yang telah lahir, air ketuban yang keluar dan sebagainya. Kemudian Rahim yang membesar semasa kehamilan hingga 500 kali, kini perlahan mulai mengecil ditandai dengan kontraksi dan  menjadi seperti semula sebensar telur ayam. Payudara juga akan membengkak karena Asi akan terisi penuh dan itu membuat sang Ibu merasa kesakitan. Keinginan untuk buang air kecil yang sering dikarenakan produksi ASI yang terus meningkat juga rasa sembelit saat buang air besar.         
                Perubahan lainnya adalah perubahan psikis yaitu perubahan emosioal, hal ini disebabkan hormone yang berubah. Karena perubahan hormon ini, perempuan yang baru saja melahirkan akan merasakan emosional yang meningkat, seperti rasa gelisah, merasa sedih dan menangis, ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan semua itu adalah perpaduan antara keletihan mengurus bayi dengan perubahan hormon yang lebih dikelan gejala “Baby blues”.
Sekitar 70%  hingga  80%,  Seorang Ibu melahirkan akan mengalami gejala “baby Blues’ ini. Dan masih tergolong normal, selama sang ibu masih mau memberikan ASI juga tidak menyakiti sang  bayi. Beberapa hal yang terjadi yang akan dirasakan seorang ibu setelah melahirkan itu yang membuat post partum menjadi horror. Barangkali juga tergantung kondisi masing-masing perempuan. Tergantung ada atau tidaknya keluarga yang mendampingi. Lebh tepatnya lagi dukungan social bagi si Ibu.
Baca Juga : Operasi Ceasar Empat Kali, Mau Tahu rasanya?

Ada yang pasca lahiran, bayi serta urusan cuci mencuci diurus sendiri, ada yang pasca lahiran diurus sama orang tua atau mertua atau banyak keluarga yang mendampingi. Cuma mungkin hohor nya buat yang ngurus sendiri kali yaa. Saya pernah mengunjungi teman yang baru melahirkan dirumah orang tuanya.  Ketika saya datang si teman ini lagi istirahat (tidur), jadi nggak enak ngebanguninya. Karena suaminya temanan dengan suami saya, maka suaminya yang melayani kami dan saya ngobrol dengan ibu dan keluargamya. Saat si teman ini tidur, anaknya bangun dan sedang di timang-timang oleh adiknya, sementara dia bisa leluasa istirahat. Dalam hati “waaah, enak benar ya, si bayi banyak yang ngrurusin”. Orang tuanya juga masih muda, neneknya juga masih ada. Berarti akan banyak tangan lah yang ngebantuin dia mengurus baby newborn.
                Jadi, ceritanya keempat anak saya, dari sejak lahiran semuanya saya yang urus sendiri, kecuali anak kedua, saat itu saya melahirkan di Malaysia ada Ibu mertua yang membantu saya mengurus si kecil hingga berumur 30 hari. Selebihnya saya mengurus sendiri, walaupun setiap kehamilan hingga melahirkan saya stay di rumah orangtua. Ingin rasanya seperti Ibu-Ibu baru yang lahiran dan bisa istirahat  dengan leluasa, atau ketika baby bangun malam, ada anggota keluarga juga yang turut sigap menggendong sikecil. Tapi apalah daya, ibu saya telah berpulang semasa saya kuliah. Namun ketiadaan orang tua, tak mesti membuat kita berkecil hati. Dirumah sudah ada si mbak yang bantu-bantu membersihkan rumah, juga mencuci pakaian bayi.
                Selepas kelahiran anak keempat, tiga hari pemulihan di klinik sayapun pulang kerumah ortu. Tentunya anggota baru bertambah, ada bayi mungil penghuni baru dirumah ayah. Lalu horror post pastum pun di mulai. Beda anak, beda pula tingkah polahnya, mngurus khadijah saya jadi merasa seperti baru pertama mengurus bayi. Anak perempuan memang agak sedikit rewel ketimbang anak lelaki, saat mengurus Adam dan Atqa, saya masih agak santai, karena mereka jarang sekali membuat saya begadang dimalam hari.
               
Khadijah sama seperti Kakaknya Hafidzah, yang suka bangun tengah malam. Dan dengan itu pula membuat saya terjaga sepanjang malam. Kemudian payudara yang bengkak karena ASI, bikin saya selalu meringis manahan sakit setiap sikecil mimik. Nah, saat si kecil mimik, rahim juga ikut kontraksi dan saya merasakan sakit yang luar biasa di perut. Kalau suda begitu saya hanya bisa meringis menahan sakit sambil  mengeluarkan air mata. Melihat saya yang selalu kesakitan saat sikecil mimik, suami menyarankan memberikan susu bantu alas susu formula. Sayak katakan “TIDAK”, Anak –anak saya Full ASI 6 bulan hingga 2 tahun. Lalu mengapa saat ini saya menyerah, biarlah  harus menahan sakit untuk beberapa saat, agar sikecil mendapatkan haknya.
Pasca lahiran adalah masa-masa terberat buat saya menjelang sebulan pasca pemulihan, belum lagi pemulihan pasca operasi dengan luka operasi yang masih nyeri, apalagi ini adalah ceasar keempat tentu kondisi fisik serta pemulihan agak sedikit lambat. Seminggu pasca lahiran, kembali kontrol kedokter untuk membuka jahitan, karena tak tahan dengan nyeri dibagian perut bawah, dokter meresepkan kembali obat anti nyeri. Tapi setelah saya cari info di google tentang obat tersebut, ternyata tidak baik bagi ginjal jika di konsumsi dalam waktu yang lama.
Akan ada banyak hal yang terjadi pada ibu pasca melahirkan. Oleh sebab itu Ibu pasca melahirkan butuh dukungan dari orang-orang terdekat terutama suami. Alhamdulillah sebulan sebelum melahirkan, hingga pasca lahiran suami telah mengurangi  aktifitasnya. Suami yang mengurus saya, memasak dan sebagainya, membuat saya bisa melalui hari-hari terberat setelah melahirkan.  


Tak banyak memang perempuan yang berani hamil dan melahirkan secara sc untuk keempat kalinya, di sini saya akan berbagi pengalaman dari awal kehamilan hingga melahirkan dengan tindakan operasi, juga cerita tentang mioma semasa kehamilan.
Berikut catatan masa kehamilan hingga melahirkan.
Sebulan  setelah idul fitri setahun lalu,  saat awal tahun ajaran baru dan anak-anak mulai kembali kesekolah. Saya  tidak mendapatkan haid yang sudah telat beberapa hari. pusing,mual, dan tiba-tiba saja ada perasaan malas untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah dan inginnya hanya tidur-tiduran. Terasa ada yang lain, beli test pack, bagun pagi keesokan hari cek urine, benar positif garis dua.
Perasaan campur aduk kala itu, ada rasa bahagia  karena Allah telah menitipkan kembali amanah kepada kami, takut dan khawatir karena mau tidak mau, persalinan nantinya juga harus dengan tindakan operasi. Sectio Ceasarea untuk keempat kalinya, dengan itu juga sejak tahun 2004 hingga 2018 saya akan masuk keruang operasi untuk keenam kalinya. Mendengar kata operasi atau pembedahan, terdengar ngeri, tapi bagaimanapun keadaan, saya harus meyakinkan diri bahwa semuanya itu akan baik-baik saja.
Setelah positif hamil dengan hasil test pack, saya tidak langsung buru-buru kedokter kandungan. Hanya periksa tensi kepukesmas dekat rumah sambil jemput anak sekolah. Cek di pukesmas tensi tinggi, Dokter pukesmas tak berani kasih obat, karena saya lagi hamil. Sejak awal tahun 2017 saya memang sering sakit kepala yang luar biasa, rasanya ingin sekali membenturkan kepala kedinding agar sakit itu segera hilang dan terasa pegal di pundak. Waktu itu cek dipukesmas tekanan darah saya 150/100. Senewan memang, mau tau rasanya kalau tensi tinggi, rasanya kepengen makan orang. Halaahh.
Dokter bilang, obat penurun tensi hanya untuk orang yang sudah lanjut usia,  seperti saya yang usia produktif  hanya jaga pikiran dan mengatur pola makan juga banyak istirahat. Ha ha, kalau untuk  banyak pikiran, siapa sih orang yang nggak banyak pikiran, atur pola makan mungkin kurangi garam, istirahat mungkin juga, intinya jangan sering begadang. (maklum emak-emak penulis, sering jadi kelilawar begadang malam buat nulis, aslinya nonton HBO wkwkwk). seorang teman menyarankan untuk makan satu suing bawang putih setiap pagi hari juga buat parutan timun. Alhamdulilah seminggu reaksinya sudah terasa, dan pikiran serta kepala saya kembali normal.
Dua minggu kemudian, bersama suami pergi kedokter kandungan. Niatnya mau ke klinik  Alaza  dibatu 5, cuma karena malam itu pasien full. Rupaya daftar untuk mengambil nomor antrian harus jam 8 pagi.  Suami bilang, sambil jalan pulang, coba cek dokter di batu empat, mana tahu masih terima pasien. Sambil lewat batu empat, ternyata praktek dokternya masih menerima pasien. Waktu hamil anak pertama memang kontrolnya disitu juga. Satu jam lebih juga saya menunggu hingga nama saya di panggil, tensi agak tinggi juga waktu itu. Ketika membaca riwayat persalinan dokter nanya, “mengapa waktu melahirkan anak ketiga, tidak langsung steril,”. Saat akan operasi anak ketiga dokter memanga nyaranin steril, Cuma suami masih belum izin.  Saya bilang juga saya ada mioama di rahim, dua tahun lalu pernah usg tranvaginal di dokter Maryam. Pas di usg kehamilan sudah memasuki usia 7 minggu, miomanya masih satu centi, dokter jelaskan, kehamilan saya  beresiko keguguran, karena mioma akan berebut makanan dengan janin. Resiko lainnya bayi saya akan lahir premature, juga saat persalinan siap kan kantong darah karena saat mioma diangkat akan terjadi pendarahan.
Dengar kantong darah, pendarahan langsung lemas seluruh persendian. Takut, pastilah bukankah penyebab kematian pada ibu bersalin karena pendarahan. Dalam perjalanan pulang, perasaan saya galau maksimal. Suami bilang, tak usah kontrol kesana lagi. Gara-gara itu saya nggak bisa tidur, buka laptop tanya babang gogel, mana tahu ada yang mau berbagi cerita, baca-baca blog orang, temulah saya kisah ibu hamil dengan mioma, bahwa selama hamil mioma juga akan terus membesar. Tapi penulis blog cerita jika persalinannya oke dan tidak ada kendala apalagi pendarahan. Parno saya mulai berkurang dan hati pun agak lega, nyatanya nggak seseram yang dibayangan.
Sebulan kemudian, saya cek kehamilan ke keklinik Alaza, kontrol dengan dokter  Defri yang membantu persalinan saya ketiga, lima tahun lalu. Setelah dari dokter Defri, perasaan khwatir jadi mulai berkurang. Kehamilan saya oke dan tidak ada masalah, resiko pendarahan dan pecah rahim insyaallah tidak, untuk mengatasinya kata dokter di ikat pembuluh darah agar tidak terjadi  pendarahan.
Awal kehamilan,keluhan yang dirasakan sama seperti keluhan ibu hamil pada umumnya, pusing, mual dan muntah. Tapi alhamdulilah selama hamil dedek Khadijah saya tidak ada muntah sama sekali. Rasa pusing dan mual mulai berkurang ketika  sudah masuk minggu ke 16 atau bulan keempat. Namun pada bulan keempat itu juga saya mulai merasakan nyeri pada jahitan bekas operasi terdahulu. Perut saya juga sering keram/ kontraksi itu sudah terasa di bulan keempat. Kontrol lagi kedokter, katanya nggak apa, dokter bilang tak apa, saya pun jadi tidak khawatir.
Semua itu berlanjut hingga perut saya mulai membesar, nyeri bekas jahitan operasi mulai sering terasa. Jika nyeri datang saya bawa istirahat dan tidur. Kalau sudah kecapeaan atau banyak melakukan aktivitas perut saya mulai keram. Dokter tetap mengharuskan saya untuk menunggu sampai usai bayi 38 minggu  dan menjadwalkan operasi tanggal 5 atau 6 April 2018. Menjelang 38 minggu saya sudah mulai kepayahan. Perut yang membesar membuat sulit melakukan aktiivtas, tidur juga tak nyaman. Karena gerakan janin sudah mulai berkurang, saya minta jadwal operasi dimajukan. Ceritanya bisa dilihat disini.
Minggu tanggal 1 April operasi dijadwalkan suami minta operasinya malam,  katanya ambil berkah malam Senin. Saya memilih bersalin di klinik dari pada di rumah sakit, dengan pertimbangan membawa anak-anak untuk nginap diklinik selama saya dirawat. Selesai magrib saya di telpon oleh bidan untuk segera turun, buat persiapan operasi. Saya sholat jama’ magrib  dan Isya, sebab operasi akan dimulai jam 20.00 wib. Sebelum masuk keruang operasi, dua orang bidan melakukan pemeriksaan, tekanan darah, mengambil sample darah untuk mengecek HIV, hepatitis dan Spilis. Alhamdulillah kesemuanya negativ. Kemudian bidan mnyuntikan test  alergi antibiotic di tangan kanan, mau tau rasanya, seperti tersengat listrik perihnya luar biasa dan berlangsung beberapa menit.
Setelah semua persiapan selesai, tepat jam 20.00 wib, saya masuk keruang operasi. Dalam ruang tersebut ada tiga dokter, satu bidan dan satu orang asisten anastesi.  Sebelum operasi dilaksanakan, di pasangkan keteter urine, juga suntik bius di punggung, suntik bius itu sakitnya luar biasa, badan saya dipegang oleh asisten anestesi, disuruh tarik nafas ketika disuntik, satu, dua kali dicoba masih gagal, hingga ketigga kalinya disuruh tarik nafas baru disuntik ditempat yang tepat agar obat biusnya bekerja.

Baca Juga :
Lho, PMI Kok Tutup ??
Melahirkan Ceasar Empat Kali, Mungkinkah?
Saat operasi berlangsung, saya di buat ngantuk, asisten anestesi bilang “ibu tidur saja nggak papa”. Beberapa menit kemudian perut terasa seperti digoncang-goncang, seketika itu terdengar nyaring tangisan bayi. Pukul 20.20 wib bayi perempuan lahir, anak keempat kami lahir dengan berat 3760 gram dan panjang 52 cm. Pukul 21.00 wib operasi selesai, saya langsung di antar ke kamar rawat inap. Oleh dokter anastesi, saya sudah di bolehkan minum teh hangat, namun badan belum boleh miring kiri maupun kanan hingga jam 8 malam keesokan hari. Alhamdulilah operasi malam itu berjalan lancar.
Catatan penting selama kehamilan dan persalinan.
-          - Apa yang dikhawatirkan selama hamii dengan berbagai resiko seperti prematur, pendarahan,pecah rahim , alhamdulilah tidak terjadi.
-         -  Bayi Khadija lahir dengan selamat, cukup bulan 38 week dengan berat 3,7 kilogram dan panjang 52 cm.
-        -  Menjelang melahirkan, alhamdulilliah tensi saya kembali normal, yang sebelumnya bikin saya senewen 160/90.
-          - Mioama 3 centi pas USG bulan ketiga, sampai melahirkan hilang dengan sendirinya.
-           - Saat oparasi memang sudah stanbay 2 kantong darah karena Hemoglobin rendah 8,4.

-       - Hamil anak keempat ini, banyak hal -hal luar biasa yang saya rasakan dimana saya tetap produktif menulis, membuat tutorial template blog dan mengisi training blogging secara online.      
***Tulisan ini ditulis ketika usia baby Khadijah berumur 51 hari, kondisi saya sudah fit, sudah bisa berkaktivitas seperti biasa.