Mudik, situ yang senang kami yang ketakutan


 #Mudik, situ yang senang, kami yang ketakutan


Saya mau cerita tentang mudik dan lebaran tahun lalu dimana saat itu pemerintah sedang memberlakukan PSBB dan semua kota di lockdown.

Apalagi eforia mudik selalu kerasa setiap tahun, istilahnya lebaran itu kalau nggak mudik nggak afdhal.


Februari 2020 tepatnya sebulan sebelum pemerintah memberlakukan lockdown diseluruh kota, dan covid belum masuk ke Indonesia, Saya ikut suami pindah kekampung halamannya dipelosok Sumatera Barat. 


Pelosok, karena kampung suami terletak di lembah-lembah bukit barisan dan tentunya tidak ada jaringan seluler alias susah sinyal. GSM istilahnya, geser sedikit mati. 

Disana saya mengajar di pondok pesantren dan juga telah disediakan rumah disekitar pesantren.


Sebagai guru baru dan sedang semangat-semangatnya mengajar ada perasaan sedih karena sekolah diliburkan karena corona. Para santri dipulangkan dan belum ada kepastian kapan akan masuk sekolah kembali.


Lanjut memasuki ramadhan, khabar covid yang saya dengar semakin mengerikan. Sesekali saya cek pesan whatapps dengan cari sinyal dan harus menempuh 8 km keluar kampung untuk dapatkan sinyal 4G. 

Info-info di grub-grub we a pun bikin saya ngeri soal virus ini.

Malah ada tulisan yang bilang, kalau udah dijemput dengan ambulance, mungkin itu kali terakhir bertemu kelurga, huff pokoknya mengerikan masa itu.

Sampai kami mulai menyetok makanan, jika misal keadaan semakin parah dan mobil pengantar bahan makanan tak masuk kekampung.

Tapi kata suami, di kampung nggak perlu khawatir, sebab masih bisa makan  dari tumbuh-tumbuhan, nggak masuk gas, masih bisa masak dengan menggunakan kayu bakar. Yang perlu disetok hanya garam sebab kami dipegunungan.


Aktivitas di kampung tetap seperti biasa, karena nggak ngajar saya dan suami mulai membuka ladang baru. Kami mulai bertani, menanam jagung waktu itu.

Saya bersyukur, masa pandemi dimana orang-orang kota  pada dirumahkan dan tidak bekerja, orang-orang kampung masih tetap produktif setiap pagi pergi ke ladang masing-masing.

Bulan puasapun begitu, karena diladang tak bertemu dengan orang banyak, hanya cangkul dan tanaman yang dihadapi.


Ramadhan hampir berakhir, saya tanya ke para tetangga yang anak-anak mereka di rantau, kebanyakan tidak bisa pulang karena corona dan mereka yang dikampungpun cukup memahami.


Saya telpon adik ipar pun, yang biasanya pulang setiap lebaran pada tidak bisa pulang. Mereka khawatir kalau pulang bakal menyusahkan keluarga, virus bakal menyebar dan orang-orang tua banyak yang rentan. 

Bisa-bisa apa (panggilan untuk ayah mertua) nggak bakal diminta mendoa karena warga takut anaknya ada yang pulang dari rantau. Begitu kata adik ipar.


Adik suami yang paling kecil yang bisa pulang, itupun dia pulang sudah jauh - jauh hari sebelum Ramadhan, sebelum ada PSBB.

Waktu dia pulang pun, pas saya kerumah mertua dia bilang “uni jaga jarak, karena baru pulang” 

Saya bilang sama anak-anak nggak usah dekat-dekat dulu sama tantenya karena baru dari Padang.


Di kampung saya hanya mendengar berita corona begini-begini, ada yang positif di Muaralabuh, ada yang ayahnya meninggal sesak nafas dalam perjalanan ke Padang, sebab anaknya pulang dari Jakarta, ada yang satu keluarga postif setelah menjemput anaknya dari Padang dan segala macam yang bikin ngeri. Akan tetapi di kampung tetap saja aktivitas seperti biasa, sholat tarawih dan sholat jum’at tetap diadakan. Mendoa kerumah-rumah masih tetap ada.


Mendekati hari raya waktu itu ada cerita lucu kalau saya ingat-ingat.

Karena corona ini tentu banyak yang tak bisa pulang kampung, jadi setiap ada yang pulang dari rantau langsung jadi bahan pembicaraan amak-amak di lapau.

Anak siini pulang, anak si itu pulang. Tentunya kami dikampung agak sedikit merasa geram, dah nggak boleh mudik, nekat pula pulang. Kami khawatir yang mudik bawa virus dan kampung yang biasanya aman-aman jadi tertular.

Tentu banyak yang kemudian mulai menjaga jarak dengan keluarga yang didatangi dari rantau.


Nah, pas tiga hari menjelang lebaran.

Saya dapat cerita dari amak-amak di lapau. Ada tiga anak muda pulang dari Padang menyeludup naik mobil kampas (mobil kamps, mobil yang membawa 

bahan-bahan makanan dari kota) trus dijemput sama keluarganya di simpang. 

Ketiga anak muda itu tinggalnya satu jorong sama Saya, malah satunya lagi tetangga.

Dan malamnya pak jorong mengumumkan lewat toa mushala agar ketiga anak muda itu melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.

Tentu kami dikampung khawatir kalau-kalau mereka OTG.

Sampai-sampai karena warga ketakutan, nggak ada yang tarawih di mushala, sebab anak yang pulang dari Padang itu, Ayahnya jemaah mesjid dan rajin ke mesjid.

Banyak yang menghindar dengan bapak tersebut. Itu baru kami ketahui saat bapak tersebut datang kerumah menitipkan zakat fitrah, sambil curhat kesuami beliau merasakan respon warga saat anaknya pulang dan orang-orang banyak yang menghindar dari beliau, dan hal itu membuat beliau merasa sedih.


Saat malam idul fitri, suami bilang “hati-hati sama si ini, anaknya baru pulang dari padang dijemput pakai mobil dan kurang sehat”

Gegera itu, paginya saya dan anak-anak tak jadi sholat dimushala, khawatir ybs ikut juga shalat idul fitri, wkwkwkw.

Tapi rupanya kata adik ipar mereka sekeluarga sholat iednya di masjid dekat rumah mertua, ketemu sama adik ipar dan sedikit kesal bilang “ ikut juga sholat idul fitri, padahal baru dari Padang, nggak pakai masker lagi”

Sambil meminta mertua untuk tidak dekat-dekat dan tidak salaman.


Yaah, begitulah cerita ramadhan tahun lalu, saat berita berita corona tampak mengerikan dan orang-orang kampungpun sering khawatir sama mereka yang baru datang dari kota.


Namun, saat idul adha, yang tidak pulang idul fitri banyak yang pulang dan suasana biasa-biasa saja nggak ada lagi rasa takut dari kami yang tinggal dikampung.

Tapi kini, menjelang lebaran berita-berita covid ini kembali mengerikan.

Post a Comment

0 Comments