Jerawat dan Seribu Kenangan Bersamanya

by - 17:54

Jerawat,
Kau Sungguh Kualat
Tumbuh dipantat
Sangatlah sedap

“Owhh jadi kamu menyindir Saya”
 Gdebruaaakkk, hardikan itu nyaring terdengar, amarahnya memuncak. Aku tak bisa berkata, hanya bisa menundukkan kepala sambil mengutuk dalam hati, mengapa Aku punya ide sekonyol itu mengarang puisi jerawat. Sang senior bukan menyuruh Aku untuk menjauh, dia malah memanggil senior lain dan Aku disuruh membacakan lagi puisi sambil berdiri diatas meja. Aula yang sedari tadi bising dan ribut, tetiba hening. Puisi jerawat kubaca lagi, semua tergelak tawa, Aku hanya tertunduk menahan malu.
“Uraaang, caliaklah, Adiakko menyindir Ambo”  teriak sang Senior itu lagi sambil menunjukkan jerawat batu diwajahnya, kemudian tertawa lebar disusul  gelak tawa senior-senior lain.
                Masa perkenalan siswi asrama (MAPERSA) mengharuskan kami, penghuni asrama baru meminta tanda tangan seluruh senior. Cerita naas soal jerawat bermula ketika mataku tertuju pada seorang Uni dari kelas dua, berwajah  manis, mata bulat serta hidung mancung, jilbab lebar dengan warna biru laut terlihat dia terkesan ramah. Aku menghampiri dan meminta untuk berkenalan dengan Uni berwajah manis itu. Namanya Ni Ira, kemudian dengan sedikit basa-basi ni Ira memintaku untuk membacakan puisi, sebagai syarat mendapatan tanda tangannya. Manalah Aku hapal puisi, entah dapat wahyu dari mana, kukaranglah puisi jerawat ngasal. Ni Ira tersenyum simpul mendengar Aku berpuisi, namun puisi jerawat yang Kubacakan tadi belumlah cukup baginya, dia memberikan syarat lagi dengan menyuruhkku mencari Uni yang bernana Ni Ema dan membacakan puisi jewarat didepannya. Maka tragedi jerawatpun bermula.
Malam pertama tinggal di Asrama adalah malam ternaas buatku. Selama satu minggu kegiatan MAPERSA berlangsung, Aku menjadi bulan-bulanan para senior lantaran puisi jerawat. Setiap akan memulai pencarian tanda tangan, kami terlebih dahulu dikumpulkan di aula asrama. Maka, setiap itu pula, Ni Ema selalu menyindir-nyindir Aku soal puisi jerawat. Baginya sindiran itu adalah lelucoan melontarkan joke  joke untuk menghibur teman-temnnya, bahkan tak jarang teman seangkatanku juga ikut tertawa. Akan tetapi tidak bagiku, Aku terus membenamkan kepala menahan malu.  
Seminggu mapersa, adalah hari-hari terkelam. Setiap berkenalan dengan senior ada – ada saja yang diperintahkan oleh mereka. Mulai dari : bernyanyi, menghiting luas lantai aula asrama dengan jengkal tangan, menghitung jendela asrama dan lain-lain. Lelah fisik pasti, apalagi kami juga harus mengikuti kegaiatan MOS disekolah, pun hampir dengan cara yang sama. Aku masih ingat sore setelah Ashar, saat MOS disekolah belum dibubarkan. Abang yang sedang kuliah di Unand menjengukku ku dan menunggu diruang tamu asrama. Melihat Abang datang,  Aku menangis terus saja menangis terisak-isak, Aku tak bisa berkatakata lagi. Dadaku penuh sesak oleh amarah, kesedihan yang terpendam.
Hari-hari setelah mapersa, tidaklah menakutkan. Akan tetapi tetap saja undang-undang senior selalu benar terus berlaku.  Aku tak menyesali atau menyalahkan keadaan. Bersekolah di Madrasah Aliyah Program Khusus dan tinggal diasrama adalah murni atas pilihanku sendiri. Suka duka selalu, bagaiman tidak Aku seorang remaja tanggung yang berasal dari pulau Bintan Kepulauan Riau, merantau jauh demi menuntut Ilmu Agama pada sebuah sekolah Madrasah Aliyah Program Khusus yang terletak didesa Koto Baru Padang Panjang. Sebuah desa ditepi jalan lintas Sumatera dibawah dua kaki gunung Merapi dan Singgalang.
 Di Desa itulah titik awal hijrahku. Aku baru mengerti batasan aurat yang sesungguhnya, batasan pergaulan dengan lawan jenis juga petuah haramnya pacaran serta wajibnya menjaga pandangan. Atas kesadaranku sendiri Ku kirmkan surat PHK (pemutusan Hubungan Kekasih) kepacarku ditsanawiyah. Ku kirimkan juga surat kepada Ibu, bercerita tentang sekolahku serta permohonan maaf atas kenakalanku sebelumnya. Aku menuntut ilmu agama, mempelajari kitab kuning, kitab arab yang tidak berbaris juga menghapal hadist arbain. Baru ku tahu artinya ukhwah, lagu nasyid serta majalah Islami seperti sabili, Annida, tarbawi.
Walau tekanan-tekanan dari senior selalu terus ada, namun hari-hari kulalui bersama teman – teman terasa menyenangkan tidak ada laki-laki dikelas kami,  hidup kamipun tanpa pacaran, tanpa mode, tanpa perayaan valetine.Jika sedang merindui keluarga atau menghapal pelajaran, kami sering duduk  pada tangga dibawah asrama, ditepi kolam menghadap kegunung Singgalang. Pemandangan gunung, serta hamparan ladang wortel  apalagi udara dengan suhu 17 derajat celcius, membuat sejuk hati dan pikiran tercerahkan.
Kini belasan tahun telah berlalu, namun kenangan akan asrama, gunung, sawah ladang wortel selalu tergiang ingatan.Bagaimana bisa kulupakan semua semua kenangan suka dan duka, serta pemandangan nan indah. Saat berdiri didepan gerbang sekolahku, kita akan disuguhi pemandangan gunung merapi serta kabutnya dipagi hari. Dibelakang Asrama ada hamparan ladang bawang, wortel yang berada dikaki gunung singgalang.
Kelak ketika Aku berkesempatan mengunjungi sekolahku, Akan kuceritakan kepada dua pasang anak-anakku.
“Nak disinilah tempat ummi belajar menuntut imlu agama, disinilah ummi mengerti akan syariah Islam.

Mohon kritik dan saran, artikelnya belum selesai buat ikuran lomba smartphone huwei 

You May Also Like

7 komentar

  1. Baguus mba ceritanya, puisi jerawatnya banyol banget pantesan jadi bahan bully-an hehe. Jempol ceritanya mba 👍🏻

    ReplyDelete
  2. Uni hehe cerita seruu, sudah suka berpuisi dari dulu ya rupanya. Sabili dan Annida juga aku suka. Sukses ya semoga sukses lombanya

    ReplyDelete
  3. Uni hehe cerita seruu, sudah suka berpuisi dari dulu ya rupanya. Sabili dan Annida juga aku suka. Sukses ya semoga sukses lombanya

    ReplyDelete
  4. Bagus ceritanya Uni. Saya selalu senang cerita-cerita di asrama. Kalau bisa ngulang, pengen juga sekolah boarding. Sukses ya Uni..

    ReplyDelete
  5. Wah..ini cerita nyata to. Berasa bisa membayangkan suasananya krn deskripsinya jelas banget

    ReplyDelete
  6. Kebayang itu sejuk udaranya ya uni. Sayur mayur segar dan murah. *emak-emak banget.

    ReplyDelete
  7. Rindu dengan saat itu....

    ReplyDelete