Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2018

Poor School Vs Rich School

            “Hari-harinya ke warnet kak, susah dibilangin”             “Bapaknya marah juga dianggap angin lalu” Seorang Ibu yang duduk disebelahku terus saja bercerita tentang anaknya yang sudah kecanduan bermain game online diwarnet. Sesekali kutimpali dengan bahaya kecanduan game online, yang tidak hanya dapat merusak kesehatan melainkan efeknya lebih dahsyat dari pada kecanduan narkoba. Tanpa dihiraukannya ucapanku tetap saja dia nyerocos berkisah prihal anaknya yang juga sempat kena typus karena lupa makan akibat   keasyikan bermain game. Ya, memang sejatinya perempuan lebih suka didengar dari pada diberikan solusi. Hingga diakhir kalimatnya si Ibu berucap, sambil menirukan gaya bahasa kepada sang Anak. “Mamak doakan, semoga warnetnya di gerbek polisi, nginaplan engkau dipenjara agak semalam biar jera” Duh, duh duh.. dahsayatnya ucapan seorang Ibu, karena tak tahu harus bagaimana lagi merubah kebiasaan sang anak. Aku berdehem membatin. “jika Ibunya saja tak

Tentang Jerawat dan Desa Seribu Kenangan

Jerawat Kualat dan Senyum Jahat Jerawat, Kau Sungguh Kualat Tumbuh dipantat Sangatlah sedap “Owhh jadi kamu menyindir Saya”   Gdebruaaakkk, hardikan itu nyaring terdengar, amarahnya memuncak. Aku tak mampu berkata, hanya bisa menundukkan kepala sambil mengutuk dalam hati, “ mengapa Aku punya ide sekonyol itu mengarang puisi jerawat” . Sang senior bukan menyuruh Aku untuk menjauh, dia malah memanggil senior lain dan Aku disuruh membacakan lagi puisi sambil berdiri diatas meja. Aula yang sedari tadi bising dan ribut, tetiba hening. Kembali Aku berpuis, semua tergelak tawa, menertawai Aku yang sedang menjadi badut dadakan.   “Uraaang, caliaklah, Adiakko menyindir Ambo”   teriak sang Senior itu lagi sambil   menunjukkan jerawat batu diwajahnya, kemudian tertawa lebar disusul   gelak tawa senior-senior lain.                 Begitulah kesan pertamaku menempati asrama ini. Dimana Aku mesti melalui satu minggu masa perkenalan siswi asrama (MAPERSA), yang men

ASUS Vivobook Flip TP410, Laptop Multifungsi Cocok Untuk Emak Kekinian

“Sebenarnya Aku juga ingin sepertimu yang tetap dirumah namun bisa berpenghasilan”. Makjleb , tiba-tiba seorang teman berkata begitu disela-sela obrolan kami. Sudah lama memang kami tidak bertegur sapa melalui telpon, entah mengapa saat menjelang magrib, Ia menelpon melalui nomor seluler. Bertanya kabar, lalu bercerita tentang aktivitas masing-masing, hingga sampai pada ungkapan, seperti tadi. Dengan nada berat temanku bercerita betapa sulit bin rumit menyelesaikan desertasi yang jauh berbeda dengan skirpsi maupun tesis. Pun Anak semata wayang menginjak akil baligh dan sudah mulai tidak patuh, malah lebih menurut pada sang Nenek ketimbang Mamanya sendiri. Galau akan permohonan sang Anak yang memintanya untuk berhenti mengajar. Aku simak curhatannya sesekali kasih motovasi untuk segera menyelesaikan diseratasi Bagaimana bisa Ia punya anggapan seperti itu, sementara dulunya Aku juga pernah merasa ingin sekali berada diposisinya, punya segudang prestasi, pintar   serta menda

SELISIK 2018 STTBANDUNG : MAKINGINDONESIA 4.0

Revolusi Industri 4.0 telah didepan mata, terlebih ketika Bapak Presiden Jokowi meresmikan peta jalan atau roadmap yang disebut MAKINGINDONESIA 4.0.   revolusi Industri Generasi keempat diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab, seorang ekonom asal Jerman, yang menulis buku The Fourth Industrial Revolution, bahwa konsep itu telah mengubah hidup dan kerja manusia (sumber : Detiknet  ) Hingga saat ini ada 4 tahapan revolusi indiustri yaitu : Revolusi Industri pertama pada abad ke-18 dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt, hal itu membuka peluang besar-besaran bidang lainnya seperti pertanian, manufaktur, pertambangan, dan transportasi. Penemuan mesin Uap sebagai pertanda akan kemudahan aktivitas manusia dapat ditolong dengan aktivitas mesin. Revolusi Insdustri kedua pada abad ke – 18 dengan ditemukannya listrik dan alat telekomunikasi. Kemudian disusul revolusi industry ketiga setelah perang dunia kedua, dimana manusia membutuhkan percepatan kerja seperti ditemukannya comp