Selamat datang diblog Rahayu Asda

Terima kasih karena Anda telah mengunjungi halama ini. Halaman ini di khususkan untuk menaruh partofolio yang bekerja sama dengan pihak lain.

Saat ini saya bekerja sama dengan @Joeragan Artikel sebagai mentor kelas blogging dan disamping itu juga saya membuka kelas blogging secara privat.
Untuk kelas privat blogging bisa menghubungi sata melalui nomor whatsapps http://bit.ly/RahayuAsda

Berikut kerjsama saya dengan @Joeragan Artikel

Training Blogging For Beginner Bacth 1




Training Blogging For Beginner Bacth 2


Training Blogging For Beginner Bacth 3




Training Optimasi Google Adsense

|

Berikut Testimoni peserta training disini

Berikut template yang pernah saya kerjakan disini



Tak banyak memang perempuan yang berani hamil dan melahirkan secara sc untuk keempat kalinya, di sini saya akan berbagi pengalaman dari awal kehamilan hingga melahirkan dengan tindakan operasi, juga cerita tentang mioma semasa kehamilan.
Berikut catatan masa kehamilan hingga melahirkan.
Sebulan  setelah idul fitri setahun lalu,  saat awal tahun ajaran baru dan anak-anak mulai kembali kesekolah. Saya  tidak mendapatkan haid yang sudah telat beberapa hari. pusing,mual, dan tiba-tiba saja ada perasaan malas untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah dan inginnya hanya tidur-tiduran. Terasa ada yang lain, beli test pack, bagun pagi keesokan hari cek urine, benar positif garis dua.
Perasaan campur aduk kala itu, ada rasa bahagia  karena Allah telah menitipkan kembali amanah kepada kami, takut dan khawatir karena mau tidak mau, persalinan nantinya juga harus dengan tindakan operasi. Sectio Ceasarea untuk keempat kalinya, dengan itu juga sejak tahun 2004 hingga 2018 saya akan masuk keruang operasi untuk keenam kalinya. Mendengar kata operasi atau pembedahan, terdengar ngeri, tapi bagaimanapun keadaan, saya harus meyakinkan diri bahwa semuanya itu akan baik-baik saja.
Setelah positif hamil dengan hasil test pack, saya tidak langsung buru-buru kedokter kandungan. Hanya periksa tensi kepukesmas dekat rumah sambil jemput anak sekolah. Cek di pukesmas tensi tinggi, Dokter pukesmas tak berani kasih obat, karena saya lagi hamil. Sejak awal tahun 2017 saya memang sering sakit kepala yang luar biasa, rasanya ingin sekali membenturkan kepala kedinding agar sakit itu segera hilang dan terasa pegal di pundak. Waktu itu cek dipukesmas tekanan darah saya 150/100. Senewan memang, mau tau rasanya kalau tensi tinggi, rasanya kepengen makan orang. Halaahh.
Dokter bilang, obat penurun tensi hanya untuk orang yang sudah lanjut usia,  seperti saya yang usia produktif  hanya jaga pikiran dan mengatur pola makan juga banyak istirahat. Ha ha, kalau untuk  banyak pikiran, siapa sih orang yang nggak banyak pikiran, atur pola makan mungkin kurangi garam, istirahat mungkin juga, intinya jangan sering begadang. (maklum emak-emak penulis, sering jadi kelilawar begadang malam buat nulis, aslinya nonton HBO wkwkwk). seorang teman menyarankan untuk makan satu suing bawang putih setiap pagi hari juga buat parutan timun. Alhamdulilah seminggu reaksinya sudah terasa, dan pikiran serta kepala saya kembali normal.
Dua minggu kemudian, bersama suami pergi kedokter kandungan. Niatnya mau ke klinik  Alaza  dibatu 5, cuma karena malam itu pasien full. Rupaya daftar untuk mengambil nomor antrian harus jam 8 pagi.  Suami bilang, sambil jalan pulang, coba cek dokter di batu empat, mana tahu masih terima pasien. Sambil lewat batu empat, ternyata praktek dokternya masih menerima pasien. Waktu hamil anak pertama memang kontrolnya disitu juga. Satu jam lebih juga saya menunggu hingga nama saya di panggil, tensi agak tinggi juga waktu itu. Ketika membaca riwayat persalinan dokter nanya, “mengapa waktu melahirkan anak ketiga, tidak langsung steril,”. Saat akan operasi anak ketiga dokter memanga nyaranin steril, Cuma suami masih belum izin.  Saya bilang juga saya ada mioama di rahim, dua tahun lalu pernah usg tranvaginal di dokter Maryam. Pas di usg kehamilan sudah memasuki usia 7 minggu, miomanya masih satu centi, dokter jelaskan, kehamilan saya  beresiko keguguran, karena mioma akan berebut makanan dengan janin. Resiko lainnya bayi saya akan lahir premature, juga saat persalinan siap kan kantong darah karena saat mioma diangkat akan terjadi pendarahan.
Dengar kantong darah, pendarahan langsung lemas seluruh persendian. Takut, pastilah bukankah penyebab kematian pada ibu bersalin karena pendarahan. Dalam perjalanan pulang, perasaan saya galau maksimal. Suami bilang, tak usah kontrol kesana lagi. Gara-gara itu saya nggak bisa tidur, buka laptop tanya babang gogel, mana tahu ada yang mau berbagi cerita, baca-baca blog orang, temulah saya kisah ibu hamil dengan mioma, bahwa selama hamil mioma juga akan terus membesar. Tapi penulis blog cerita jika persalinannya oke dan tidak ada kendala apalagi pendarahan. Parno saya mulai berkurang dan hati pun agak lega, nyatanya nggak seseram yang dibayangan.
Sebulan kemudian, saya cek kehamilan ke keklinik Alaza, kontrol dengan dokter  Defri yang membantu persalinan saya ketiga, lima tahun lalu. Setelah dari dokter Defri, perasaan khwatir jadi mulai berkurang. Kehamilan saya oke dan tidak ada masalah, resiko pendarahan dan pecah rahim insyaallah tidak, untuk mengatasinya kata dokter di ikat pembuluh darah agar tidak terjadi  pendarahan.
Awal kehamilan,keluhan yang dirasakan sama seperti keluhan ibu hamil pada umumnya, pusing, mual dan muntah. Tapi alhamdulilah selama hamil dedek Khadijah saya tidak ada muntah sama sekali. Rasa pusing dan mual mulai berkurang ketika  sudah masuk minggu ke 16 atau bulan keempat. Namun pada bulan keempat itu juga saya mulai merasakan nyeri pada jahitan bekas operasi terdahulu. Perut saya juga sering keram/ kontraksi itu sudah terasa di bulan keempat. Kontrol lagi kedokter, katanya nggak apa, dokter bilang tak apa, saya pun jadi tidak khawatir.
Semua itu berlanjut hingga perut saya mulai membesar, nyeri bekas jahitan operasi mulai sering terasa. Jika nyeri datang saya bawa istirahat dan tidur. Kalau sudah kecapeaan atau banyak melakukan aktivitas perut saya mulai keram. Dokter tetap mengharuskan saya untuk menunggu sampai usai bayi 38 minggu  dan menjadwalkan operasi tanggal 5 atau 6 April 2018. Menjelang 38 minggu saya sudah mulai kepayahan. Perut yang membesar membuat sulit melakukan aktiivtas, tidur juga tak nyaman. Karena gerakan janin sudah mulai berkurang, saya minta jadwal operasi dimajukan. Ceritanya bisa dilihat disini.
Minggu tanggal 1 April operasi dijadwalkan suami minta operasinya malam,  katanya ambil berkah malam Senin. Saya memilih bersalin di klinik dari pada di rumah sakit, dengan pertimbangan membawa anak-anak untuk nginap diklinik selama saya dirawat. Selesai magrib saya di telpon oleh bidan untuk segera turun, buat persiapan operasi. Saya sholat jama’ magrib  dan Isya, sebab operasi akan dimulai jam 20.00 wib. Sebelum masuk keruang operasi, dua orang bidan melakukan pemeriksaan, tekanan darah, mengambil sample darah untuk mengecek HIV, hepatitis dan Spilis. Alhamdulillah kesemuanya negativ. Kemudian bidan mnyuntikan test  alergi antibiotic di tangan kanan, mau tau rasanya, seperti tersengat listrik perihnya luar biasa dan berlangsung beberapa menit.
Setelah semua persiapan selesai, tepat jam 20.00 wib, saya masuk keruang operasi. Dalam ruang tersebut ada tiga dokter, satu bidan dan satu orang asisten anastesi.  Sebelum operasi dilaksanakan, di pasangkan keteter urine, juga suntik bius di punggung, suntik bius itu sakitnya luar biasa, badan saya dipegang oleh asisten anestesi, disuruh tarik nafas ketika disuntik, satu, dua kali dicoba masih gagal, hingga ketigga kalinya disuruh tarik nafas baru disuntik ditempat yang tepat agar obat biusnya bekerja.

Baca Juga :
Lho, PMI Kok Tutup ??
Melahirkan Ceasar Empat Kali, Mungkinkah?
Saat operasi berlangsung, saya di buat ngantuk, asisten anestesi bilang “ibu tidur saja nggak papa”. Beberapa menit kemudian perut terasa seperti digoncang-goncang, seketika itu terdengar nyaring tangisan bayi. Pukul 20.20 wib bayi perempuan lahir, anak keempat kami lahir dengan berat 3760 gram dan panjang 52 cm. Pukul 21.00 wib operasi selesai, saya langsung di antar ke kamar rawat inap. Oleh dokter anastesi, saya sudah di bolehkan minum teh hangat, namun badan belum boleh miring kiri maupun kanan hingga jam 8 malam keesokan hari. Alhamdulilah operasi malam itu berjalan lancar.
Catatan penting selama kehamilan dan persalinan.
-          - Apa yang dikhawatirkan selama hamii dengan berbagai resiko seperti prematur, pendarahan,pecah rahim , alhamdulilah tidak terjadi.
-         -  Bayi Khadija lahir dengan selamat, cukup bulan 38 week dengan berat 3,7 kilogram dan panjang 52 cm.
-        -  Menjelang melahirkan, alhamdulilliah tensi saya kembali normal, yang sebelumnya bikin saya senewen 160/90.
-          - Mioama 3 centi pas USG bulan ketiga, sampai melahirkan hilang dengan sendirinya.
-           - Saat oparasi memang sudah stanbay 2 kantong darah karena Hemoglobin rendah 8,4.

-       - Hamil anak keempat ini, banyak hal -hal luar biasa yang saya rasakan dimana saya tetap produktif menulis, membuat tutorial template blog dan mengisi training blogging secara online.      
***Tulisan ini ditulis ketika usia baby Khadijah berumur 51 hari, kondisi saya sudah fit, sudah bisa berkaktivitas seperti biasa.




images : pixabay
Ketika kontrol terakhir, dokter menjadwalkan operasi tanggal 5 atau 6 April 2018. Karena tanggal tersebut usia kandungan  telah 38 week, karena usia kandunga 38 minggu bayi telah siap dilahirkan. Seperti kehamilan sebelumnya saat perut sudah mulai besar, saya mulai susah tidur di tambah lagi pada kehamilan keempat perut sering keram dan semuanya serba tidak nyaman. Karena merasa gelisah di tambah lagi gerakan bayi yang mulai berkurang,  karena worry juga kuatir bayi di perut berkurang gerakannya, saya menelpon klinik tempat saya kontrol kehamilan. Oleh bidan saya disuruh segera ke klinik sekalian membawa perlengkaapan melahirkan.
Bersama suami juga anak-anak, kami meluncur ke klinik Alaza batu lima atas. Karena sabtu sore tidak ada jadwal dokter praktek. Bidan yang memeriksa deyut jantung bayi dengan menggunakan fetal monitor.Setelah di hitung  sesuai dengan gerakan bayi semuanya oke. Namun karena saya merasa sudah tak nyaman, kami minta jadwal operasi dimajukan. Ba'da magrib jumpa dokter, suami minta tanggal 1 April malam senin. Kemudian saya baru ingat jika hemoglobin saya rendah hanya 9. Dokter suruh cek darah lagi, hasilnya malah turun jadi 8, Sementara untuk wanita hb normal adalah 11 Saya minta obat penambah darah, dokter bilang Hb tidak bisa naik dalam hitungan hari dan beliau menyuruh untuk menyediakan stok dua kantong darah.

Baca Juga : 

Di cek darah kembali oleh bidan untuk memastikan golongan darah saya. Golongan darah saya B+, bidan klinik menelpon PMI provinsi, ternyata darah B+ kosong. Oleh bidan malam itu kami disuruh mencari dua orang pendonor dan langsung transfusi di PMI. Suami langsung menghubungi whatapps group. Alhamdulillah ada yg bersedia mendonorkan darahnya buat saya. Setelah dapat sampel darah saya. Kami meluncur ke PMI provinsi Kepri di Batu 8 tepat disamping Rumah Sakit Umum Daerah Profinsi Kepulauan Riau Ahmad Thabib.
Malam itu, sesampainya di PMI, suasan lengang, gerbang PMI Provinsi di gembok. Namun lampu kantornya menyala akan tetapi pintu di tutup. Jika gerbangnya saja di gembok bagaimana kami akan masuk. Satpam pun tidak tampak berjaga-jaga. Padahal kantornya di samping rumah sakit. Aneh, jika ada pasien emergency yang butuh stok darah di malam hari bagaimana?. Anehnya lagi bidan diklinik tadinya menelpon PMI provinsi dan ada yang menjawab panggilan telpon. Karena tutup oleh bidan, kami diarahkan ke PMI Kota. Dengan begitu kami harus memutar arah dan melakukan perjalanan sejauh delapan kilometer.
               
Badan sudah letih, namun stok darah harus didapatlkn malamini juga. Anak-anak kami antar pulang terlebih dahulu. Saya dan suami melaju menuju PMI kota, dalam hati saya membatin “semoga kantor PMI kota buka malam hari. PMI Kota juga bersebelahan dengan RSUD Kota Tanjungpinang. Lebih tepatnya lagi bersebelahan dengan kamar mayat rumah sakit. Karena untuk menuju kantor PMI harus melewati jalan Sunaryo. Sesampai disana alhamdulillah PMI Kota Tanjungpinang buka, satpamnya ada petugasnya juga ada. Alhamdulilah petugasnya ramah, tidak marah-marah seperti yang saya lihat di facebook. Padahal waktu juga sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sampel darah, kami serahkan kepetuga PMI, kemudian suami langsung menghubungi teman-temannya yang akan mendonorkan darahnya untuk saya.
                Malam itu, ada beberapa hal yang jadi pelajaran buat saya.
Pertama : semasa hamil, benar-benar memperhatikan vitamin agar hemoglobin darah tidak rendah.
Kedua  : Cuma heran saja, kok PMI yang letaknya tepat disamping rumah sakit bisa tutup, tidak 24 jam buka.

                bersambung