Review Buku : Waspada Jejak Haram Yang Mengintai

by - 04:50

Images : riawanielyta.com
Suatu hari keponakan main kerumah dan memakan permen yang tidak ada label halalnya, tiba-tiba anak kedua saya yang saat itu usianya masih tiga tahun, teriak histeris sambil bilang “iiihhh makan b*bi”. Reaksi spontan  anak kedua saya, mengundang gelak tawa anggota keluarga lain dan juga kaget, mengapa sekecil itu dengan polosnya berucap perkataan itu.
                Dari kecil anak-anak memang saya ajarkan soal halal dan haram suatu makanan, minimal untuk membeli makanan atau jajanan selalu saya mewanti-wanti dan tanya ”ada label halalnya nggak”. Di awal – awal anak-anak tanya, mengapa harus pake label halal?” jawab saya, karena yang nggak ada label halalnya ada b*binya. Gagara itu setiap anak-anak melihat jajanan yang tidak ada label halalnya, spontan mereka bilang jajanan tersebut ada b*binya.
                Namun perkara halal dan haram tidak hanya sebatas pada label halal dari MUInya. Sebab tidak semua makanan atau jajanan tradisonal seperti kue mueh  yang dijual di pinggir –pinngir jalan tentulah tidak ada label halal dari MUI. Pernah suatu hari saat adik ipar di ajak makan di warung ayam penyet, kami semua memesan lele, ayam goreng dan ayam bakar, namun si  adik ini hanya memesan tempe dan tahu penyet. Saya pun jadi terkesima sambil berucap dalam hati “qunaah betul si adik ini”. Saat pulang saya tanya, kok tadi hanya pesan tempe dan tahu penyet, maka dijawabya “saya  ragu orang yang jualnya membeli ayam potong di tempat muslim atau tidak, jika bukan muslim tentu ayam potong disemblh tidak menggunakan nama Allah”. Ya, bisa saja asumsinya benar, sebab di kota kami memang banyak pedagang non Muslim yang menjual ayam potong.
               
Images : Pixels
.
         Kemudian yang menjadi pertanyaan mengapa perkara halal dan haram itu penting bagi kehidupan seorang Muslim. Sebagai seorang Muslim, tentu setiap apa yang masuk kedalam tubuh harus diperhatikan, termasuk soal halal dan haramnya suatu makanan juga tentang  harta yang didapat. Karena barang atau makanan haram yang masuk kedalam tubuh akan menjadi darah dan berdampak terhadap kerasnya hati, sehingga susah menerima kebenaran. Dalam hadist dijelaskan bahwa Amalan seseorang tidak akan diterima jika  masuk makanan atau barang haram kedalam tubuhnya . Rasulullah saw bersabda, “Ketahuilah bahwa suapan haram jika masuk ke dalam perut salah satu dari kalian, maka amalannya tidak diterima selama 40 hari.” (HR At-Thabrani).
                Buku ini hadir sebagai jawaban atas pertanyaan – pertanyaan soal seputar halal dan haram dalam keseharian, baik itu makanan, pekerjaan maupun harta benda yang didapat.  Waspada Jejak Haram Yang Mengintai, menjelaskan kepada kita, bahwa halal atau haramnya suatu makanan bukan saja mengandung alkohol atau zat babi di dalamnya, namun lebih dari itu, seperti hewan yang disembelih tidak menggukan nama Allah adalah haram. Termasuk dalam segi pengolahan makanan, juga terkadang kita rentan terhadap bahan yang haram. Buku ini jelas bertema fiqih, namun walau buku non fiksi, penulis mampu memaparkannya dalam bahasa sederhana dan mudah dicerna. Buku duet karya  kak Riawani Elyta bersama sang adik Risa Mutia, sangat cocok sebagai rujukan untuk kita dalam menjalani keseharian agar selalu waspada terhadap halal dan haramnya suatu barang, makanan ataupun pekerjaan.
Informasi detail Buku Waspada Jejak Haram yang Mengintai

Images : riawanielyta.com

Judul : Waspada Jejak Haram yang Mengintai
Penulis : Riawani Elyta dan Risa Mutia
Kategori : Agama, Inspiration, Islam, Nonfiksi, Religion & Spirituality
Tebal : 126 hal
Harga : Rp.45.000,-
Penerbit : Qibla (imprint BIP Gramedia)



You May Also Like

15 komentar

  1. saya sangat berterimakasih jika sudi meninggalkan komentar diartikel ini

    ReplyDelete
  2. benar sekali, kita sebagai seorang ibu tentulah harus waspada terhadap apa - apa yang masuk kedalam tubuh anggota keluarga kita

    ReplyDelete
  3. Benar sekali setiap apa yang masuk kedalam tubuh kita semua harus di pertaggung jawabkan

    ReplyDelete
  4. Bener bun. Apalagi skrg bnyak makanan dari luar yg masuk k Indonesia. Sehingga bkin kita smakin berhati2 nih klo beli makanannya. Selain ngecek tgl kadarluasanya ttpi juga kehalalan dari makanannya ya

    ReplyDelete
  5. Setuju Mbak..konsep halal dan haram perlu diajarkan sejak dini. Buku seperti ini perlu dibaca sehingga orang tua tahu betul batasan halal haram dalam kehidupan..

    ReplyDelete
  6. waah,buku nya menarik untuk di baca

    ReplyDelete
  7. Hati yang bersih ditempa makanan yang suci, halal dan bersih : itu kata guru saya. Makasih info bukunya ya Mbak 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. siipp mbak, trimakasih karena sudah berkunjung

      Delete
  8. Bahkan di sini sayur pun mikir2 nak beli kak.. lhat2 penjualnya juga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Disini palagi saf, banyak cainis yang jualan sayur, ikan d;ll

      Delete
  9. Penting banget neh ilmu ��

    ReplyDelete
  10. Jadi tertarik membaca bukunya mbak. Memang benar, apapun yang masuk ke dalam tubuh itu harus diperhatikan.

    ReplyDelete
  11. Setuju banget, Mbk. Sangat penting diperharhatikan halal dan haram dalam makanan yg masuk ke tubuh kita. Konon, kata ustadz saya dari makanan halal dan haram juga yang bisa berdampak pad sifat seseorang.

    ReplyDelete
  12. Makanan halal ini memang perlu digiatkan ya mba. Di mall banyak bgt warung makan ataupun toko bakery yg gak ada label halalnya. Kalau si pelayan bilang halal tapi restonya tanpa label halal piye mba?

    ReplyDelete
  13. Sebagai ibu yang bertugas menyediakan makanan untuk keluarga, soal haram dan halal, harus diperhatikan dengan baik ya..

    ReplyDelete