MERINDUI MASJID YANG MENJAGA AURAT WANITA

by - 08:42

Images : www.tripadvisor.co.id
Sejak menimba ilmu di MAPK Koto Baru Padangpanjang tahun 1999, banyak hal yang saya dapati dan saya pelajari menyangkut persoalan Agama. Disamping belajar tentang kemandirian  juga arti persauadaraan. Berkat bantuan Abang yang saat itu kuliah di UNAND, setamat  Madrasah Tsanawiyah Tanjungpinang saya di daftarkan di MAN Koto Baru Padangpanjang, mengambil program khusus Keagamaan yang lebih di kenal dengan MAPK dengan alasan, khusus siswa/siswi MAPK wajib tinggal di asrama.

                Mondoknya saya di asrama saat itu, sungguh membawa perubahan besar dalam hidup saya. Soal kemandirian itu sudah pasti, sebab dengan tinggal di asrama berarti jauh dari keluarga dan orangtua, apalagi saya yang berasal dari Kepulauan Riau hanya bisa pulang setahun sekali pada libur Ramadhan. Karena jauh dari keluarga, mau tidak mau teman-teman dan seniorlah yang di jadikan saudara, sebagai  tempat mengadu, berkeluh kesah, tawa dan gembira.  Namun, yang paling penting dari semua itu, adalah adanya perubahan besar dalam diri saya, dari segi spiritual.

Bahasa kami anak asrama saat itu, “hijrah” , dari zaman jahiliyah. Ya, zaman jahilayah versi saya. Karena masa itu, saya baru mengenal arti aurat sesungguhnya. Apa saja yang boleh tampak dan tidak tampak oleh laki-laki yang bukan mahram kita. Termasuk juga pembiasaan untuk sholat lima waktu dan tepat waktu, pembiasaaan tilawah qur’an sehabis sholat dan beralih mengkonsumsi majalah dan buku Islami.
Jika hari Minggu atau hari libur, kami sering menghabiskan waktu ke pasar ateh Bukittinggi ataupun Padangpanjang untuk sekedar cuci mata. Tempat favorit kami, adalah berlama-lama di mesjid raya pasar ateh Bukik Tinggi. Sebuah mesjid besar yang terletak di pasar Ateh Bukittinggi.  Saat akan melaksanakan sholat dan mengambil wudhu, mesjid ini memisahkan tempat wudhu laki-laki dan perempuan dalam artian tidak Nampak, sebab hingga saat ini saya tidak tahu tempat whudu’ laki-laki di sebelah mana. Setelah menitipkan sandal, kami melewati samping kiri masjid, turun kebawah menuju tempat wudhu wanita. Tempat whudu wanita cukup besar, air sejuk mengalir di sepanjang tangga. Jadi, selesai wudhu, kita tidak lagi keluar, namun langsung naik tangga menuju tempat sholat wanita yang tertutup rapat dari pandangan laki-laki. Sepanjang tangga menuju tempat sholat di aliri air sejuk yang mengalir, guna menjaga kaki terkena najis setelah selesai berwudhu.
Pengalaman sholat di Mesjid raya Bukttinggi yang masih berkesan oleh saya setelah sepuluh tahun meninggalkan Sumatera Barat. Berkesan, sebab mesjid ini sangat menjaga kesucian dan aurat wanita. Karena saat berwudhu tentu, kita sebagai seorang muslimah akan melepaskan jilbab/penutup kepala hingga ke tempat sholat.
Hingga saat ini, beberapa kali saya melakukan perjalanan : Pekanbaru, Medan, Jakarta, Bogor, dan sering menyebarang ke Pualu  Batam dengan roro via Tanjunguban, ketika terdengar adzan kami langsung berhenti untuk melaksanakan sholat. Belum ada satupun masjid, yang benar-benar menjaga aurat wanita, dari tempat wudhu hingga ketempat sholat wanita. Jauh nya jarak dari tempat wudhu hingga ketempat sholat , membuat saya harus memakai kaos kami kembali. Seperti  Masjid yang termegah di Kota Batam dengan desain arsitektur nya yang bagus. Fasilitas tempat wudhunya  bersih serta cleaning service yang setiap waktu membersihkan toilet masjid. Tempat wudhu nya tertutup. Tapi sangat disayangkan, setelah selesai wudhu saya harus melewati shaf laki-laki untuk menuju shaf wanita dengan jarak limapulluh meter menuju shaf wanita. Mengingat hal itu saya jadi terkenang lagi, sebuah masjid besar di Pulau Dompak, dimana tepat di pintu tempat wudhu wanita, ada tempat duduk penjaga/satpam yang di fasilitas televisi, jadi setiap akan berwudhu kami harus melewati bapak-bapak satpam yang lagi menonotn televisi.
Dari kesemua itu, yang membuat saya ingin menuliskan ini, karena beberapa hari lalu, saya bersama suami ada keperluan keluar. Saat di penjalanan berkumandang adzan Ashar dan kami berhenti untuk sholat pada sebuah masjid di jalan Haji Ungar. Sebuah masjid yang bersih, luas dan nyaman. Namun ada sedikit kecewa dalam hati saya. Tempat whudu perempuan yang terbuka  lebar hanya berpintukan terali dengan toilet yang sempit. Tempat whudu wanita tersebut berhadapan di pintu masuk sebelah kiri masjid tempat jemaah laki-laki lalu-lalang. Karena posisi tempat wudhu laki-laki bersebelahan setelah tempat wudhu wanita. Sungguh saya merasa sangat risih saat itu, jika harus berwudhu dengan membuka jilbab.
Lagi-lagi, jika akan sholat di luar saya selalu terkenang denga masjid raya Bukittinggi. Sebuah masjid besar, sejuk, bersih dan sangat menjaga aurat wanita. Semoga, suatu saat jika saya melakukan perjalanan kembali di bumi Allah yang lain, saya masih menemukan sebuah masjid yang masih menjaga aurat wanita.
Tanjungpinang, malam ke 18 Ramadhan 1438 H
#Catatan Emak Bloger yang lagi sakit gigi



You May Also Like

1 komentar

  1. Masya Allah.. semoga banyak para pemuda/ pemudi yang hatinya selalu terpaut dengan masjid :)

    ReplyDelete

Terima Kasih Atas Kunjungannya