KUNCI

by - 10:31

Images : Google

Suatu ketika di sebuah negeri tinggalah seorag tukang kunci yang mahir. Namanya terkenal hingga kepenjuru negeri. Banyak orang yang datang kepadanya dan mengakui kemampuannya membuat anak kunci. Tak ada lubang pintu ataupun gembok yang tak dapat di bukanya. Tak ada ikatan yang dapat di tembusnya. Segala macam kunci mampu dibuatnya. Tak heran, setiap hari rumahnya selalu di penuhi oleh orang-orang yang meminta bantuannya untuk membuat anak kunci.
Sayang, lambat laun kemasyurannya itu membuatnya sombong, Setiap kali ia berhasil membuka kunci yang tertutup, ia selalu sesumbar, “lihatlah aku, tak ada satupun kunci yang  tak dapat kubuka. Anak kunci buatanku paling hebat dan tak ada yang menandinginya!” Tangannya mengangkat tinggi-tinggi serenceng anak kunci yang terikat pada gelang-gelang besi. Gemerincing besiberadu terdengar di sela-sela tawa si Tukang Kunci.”Akulah siu Raja KUnci …”
Musim terlah berubah, waktu telah berganti, namun kesombongan itu yang sering di pamerkannya semakin menjadi-jadi. Walaupun mengakui kehebatannya, tapi orang-orang tidak suka dengan kesombongan yang sering di pamerkannya. Bahkan kini si tukangkunci itu semakin jumawa. Ia mulai mengaggap dirinya tukang kunci paling hebat seluruh dunia. “Ayo … ayo … siapa lagi yang butuh bantuanku. Tak ada lubang kunci yangtak dapat ku tembus. Tak ada rantai yang tak dapat ku lepaskan,” ujarnya menepuk dada.

Kesombongan memang tak akan abadi. Suatu ketika seorang kakek tua datang ketempat sang tukang kunci. “Apakah kamu mampu membuatkan kunci untukku”.
“Ya, Aku bisa membuat kunci apa saja, kunci apapun yang kau butuhkan,” Ujar si tukang kunci.
“Benarkan demikian?, kalau begitu buatkan aku kunci kebahagiaan,” Ucap si kakek tua itu perlahan. “Bukankah kamu si Raja kunci, yang mampu membuat kunci apapun? Penuhilah pesananku. Tiga bulan lagi aku akan kembali.” Kakek tua itu meninggalkan tukang kunci yang masih kebingungan. Walaupun begiti, si Tukang Kunci masih saja tetap sombong.
“Ah, itu pekerjaan mudah. Akan ku penuhi pesanan itu segera.” Lalu diambilnya logam-logam terbaik yang di milikinya. “Dengan baja dan emas ini, Kunci kebahagiaan itu pasti akan ku buat. Kakek itu akan puas dengan pekerjaankun. Lihatlah logam perak yang kupunya, ulir-ulirnya kujamin akan mampu membuka kunci apapun.’ Si Tukang kunci bekerja keras. Dibuatnya anak kunci yang terindah dan termahal yang mampu di buatnya. Ia tertantang untuk membuktikan kemampuannya, kepada kakek tua tadi.
Tiga bula berlalu, tibalah saat itu. Sang kakek tua datang. “Anak kunci pesananmu telah kubuat, cobalah pilih mana yang sesuai.” Tukang kunci itu menyodorkan beberapa anak kunci. Ada yang terbuat dari emas, baja, perak, dan campuran tembaga. Semua tampak indah dan gemerlap. Gagang dan ujungnya pun disusun dengan cermat. Ulir-ulirnya tampak indah, berpikir, membuat lekuku-lekuk yang rumit. Namun si kakek tua tetap menggelang. Tukang kunci merasa gagal.
“Ketahuilah, di dunia ini ada satu tempat yang tak berpintu. Tempat itu  Tempat itu juga tak memiliki ruang. Kedudukannya juga tak melingkupi sesuatu. Ia juga tak memiliki sekat- sekat yang terbagi-bagi.” Pertapa itu beranjak duduk. Tukang kunci mengikuti. “Karena tak berpintu, maka tempat itu juga tak memerlukan anak-anak kunci. Maka, tempat itu dinamakan kebahagiaan. Jika kamu ingin menemukannya, carilah di dalam hatimu. Ia kadang tak memerlukan emas, perak  dan tembaga karena ia ada dalam setiap sisi-sisi jiwa.”
Teman, saya percaya, kita menginginkan kebahagiaan. Sebagiab dari kita mencarinya dengan menelisik setiap inchi jalan kehidupan. Kita menyusurinya seakan kebahagiaan itu adalah suatu tempat yang jauh. Kita kerap berusaha mendapatkannya seakan kebahagiaan itu menempati suatu ruang tertentu. Namun, kita keliru dan tak menemukan apa-apa. Kita mengaggap kebagiaan irtu merupakan rangkaian emas, perak dan tembaga, dan berupa materi. Namun ketahuilah kawan, bahwa kebahagiaann itu hanyalah ada di dalam hati kita.
Tanjungpinang, 19 Ramadhan 1438 H/ 14 juni 2017

Disudur dari buku “Kekuatan Cinta” Penulis Irfan Toni Herlambang  

You May Also Like

1 komentar

  1. Kereennn
    yup, bahagia hanya ada dalam diri sendiri

    ReplyDelete

Terima Kasih Atas Kunjungannya