Bu Guru Mengapa Saya di Larang Berjualan ?

by - 02:31

Di akhir pekan seperti biasa, kami di jumput oleh kakak saya untuk mengabiskan weeknd di rumah orangtua saya, sebelum sampai dirumah ayah, kami singgah di swalayan. Ibuk begitu sebutan anak – anak kepada kakak saya membelikan mereka  sekotak cokelat coki-coki. Seperti minggu lalu anak-anak telah sukses berjualan coki-coki kepada teman-tamannya disekolah, dan semangat itu kemballi lagi. Sesampainya dirumah cokelat  coki-coki, dibagi lagi masing-masing mendapatkan 5 cokelat untuk di jual kepada teman-temannya disekolah.
Tepat hari selasa anak-anak ready kesekolah dengan membawa 5 seorang coki-coki beserta kartu boiboiboy. Saat jam pulang sekolah saya menunggu di gerbang sekolah. Awal keluar dari gerbang adalah Kak Hafizah mengahampiri saya dan lansung berucap “Umi, nggak boleh berjualan lagi kata buk guru” si kakak yang telah sukses melobi teman-temannya untuk membeli 5 coki-coki pada hari itu, di panggil bu guru kedepan kelas lalu  di peringatkan untuk tidak berjualan lagi. Kemudian si adik, Bang Atqa menyusul keluar gerbang  dan menghampiri saya, dan berkata “Umi coki-coki nya di beli semua sama bu guru, buk guru bilang nggak boleh jualan lagi di sekolah, kesekolah untuk belajar bukan untuk berjualan”. Seketika itu saya menjawab, ntar bilang sama bu Guru ya, jualan itu  juga sama dengan belajar, belajar  ber bisnis”. Ucap saya menahan kesal.

Dalam perjalanan pulang, saya tak habis pikir, mengapa berdagang di sekolah mengganggu pelajaran?  Anak saya bukan membuka lapak dengan membawa barang dagangan yang banyak, sehingga menggangu kegiatan belajar hanya 5 batang coki-coki yang dia jual kepada teman-temannya. Tampak rona kebahagiaan dari sorot mata mereka  saat memperlihatkan uang  dari hasil berjualan, mereka bangga sebab terlah berhasil mendapatkan uan dari hasil jerih payah mereka. Untuk menghilangkan kekecewaan, saya lansung berujar, ya sudah nanti kita jualan di rumah saja, kan banyak teman-teman. Saya jadi teringat kejadian 23 tahun yang lalu saat saya masih duduk di kelas 4 sekolah dasar, saat itu  ibu selalu membuatkan kue donat untuk saya jualkan di kelas, hal itu juga di lakukan diam-diam sebab takut ketahuan guru. Saya jadi heran mengapa  sebagian guru-guru di sekolah N*g*r*i belum berpikiran maju. Dengan melarang anak-anak untuk berdagang kecil-kecilan dan tentu tidak mengganggu waktu belajar.
Saya pernah mengajar di SMP IT, sekolah swasta yang terdiri dari anak-anak ekonomi menengah ke atas,  ada satu anak murit  saya,  tidak gengsi berjualan nasi bungkus untuk makan siang buatan ibu nya, sementara guru-guru juga banyak yang membeli nasi anak tersebut. Lain lagi yang di bawa oleh kedua keponakan saya, mereka juga bersekolah di sekolah swasta Islam, setiap hari tanpa gengsi mereka membawa pudding  sedot buatan uminya untuk di titipin di kantin sekolah, padahal ayah mereka adalah seorang pimpinan Bank. Saya juga mempunyai seorang  teman di facebook, karena nama panjang kami hampir sama  dia meng add pertemanan dengan saya, profesinya adalah  seorang dokter, dengan aktivitasnya kesehariannya,  teman tersebut masih sempat membuatkan es lilin untuk di jualkan anak nya di sekolah, lagi-lagi di Sekolah Swasta. Mereka membawa dagangan kesekolah tanpa rasa gengsi dan malu, apa karena mereka kurang mampu? pasti jawabannya tidak, sebab melihat dari profesi orang tuanya sanggat mustahil  orangtua memaksa anak-anak mereka untuk berdagang karena terdesak akan kebutuhan hidup. Saya yakin tujuannya adalah melatih kepercayan diri serta kemandirian sejak kecil.
Dengan berdagang kecil-kecilan si anak bisa belajar secara sistematis : Menghitung nilai barang sesunggunnya. Anak dapat mengevaluasi kelayakan barang yang akan di jual, bisa laku atau tidaknya sutau barang. Memiliki teknik penjualan yang efektif dan mengerti cara bagaimana memperlalukan uang
Jika yang di maksud oleh bu guru tersebut kuatir mengganggu  kegiatan belajar, Apa sebaiknya pihak sekolah menyediakan waktu satu hari dalam seminggu untuk mengadakan  "market day" dimana setiap anak membawa barang dagangan yang di buat oleh orang tua mereka lalu mengadakan transaksi jual beli sesama mereka. Sebagai bentuk kampaye akan jajanan sehat agar tidak jajan sembarangan.
Bagi saya bukan soal berapa untung yang mereka dapatkan, tapi melainkan untuk melatih kemandirian mereka, serta  belajar bagaimana menjualkan dan meyakinkan teman untuk membeli barang yang mereka jual, melatih kepercayaan diri juga merangsang anak agar peka terhadap kehidupan sosialnya.
Tulisan ini bukan menyinggung pihak manapun, hanya  murni untuk mengeluarkan unek-unek saya sebagai seorang ibu. Semoga ini menjadi pembelajaran buat kita bersama serta membuka cakrawala berpikir semua orangtua,  guru dan pihak sekolah.

You May Also Like

2 komentar

  1. Masih ada ya sekolah kayak gini? murid gaboleh jualan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bun, di sekolah anak saya begitu, cuma apa ada larangan dari diknas anak - anak di larang berjaualan??

      Delete