Si Putih Biru (Mapersa Part II)

by - 21:11

 Dan next cerita kita berlanjut, padahal awalnya mau cerita soal masa orientasi siswa ketika saya di aliyah, tapi kok malah cerita dari zaman krucil.. tapi tak apalah, ini adalah muqadimah atau titik awal aku melangkah menuntut ilmu menuju ke sumatera barat. Ini lah sebab musabab ngapa aku  nya punya keinginan kuat untuk sekolah  Agama di Padang sana.
Hal ini bermula ketika ketekunan ku belajar agama di Madrasah Diniyah Awaliayah (MDA) masjid At Taqwa di jalan Sumatera itu, pemahaman agamaku agak sedikit lebih banyak di bandingkan dengan taman- teman di sekolah. Setiap minggu pagi, pas acara didikan shubuh, aku selalu tampil kedepan : pidato, kalo tidak jadi Mc,  Kalo tidak baca hafalan surat pendek. Konsep pidato untuk aku yang seukuran anak SD udah bikin sendiri itu luar biasa,  nyontek di belutin khutbah jum’at yang selalu di bawa ayah. Berbagai macam lomba aku ikuti saat masih di MDA,mulai dari lomba : pidato, praktek sholat, hapalan surat pendek,hafalan do’a harian, karena setiap acara hari besar Islam Mesjid kami selalu mengadakan berbagai macam lomba. Aku juga sering di utus untuk mengikuti lomba antar mesjid yang biasa nya di adakan di Mesjid Raya untuk sekota Tanjungpinang. Berbagai prestasi aku ukir saat itu di zaman SD, di tambah lagi prestasi di sekolah tak pernah keluar dari rangking tiga besar di kelas. Namun masa – masa kegemilangan itu nampaknya hanya sebatas zaman sekolah dasar. 
Nah,karena sepertinya aku lebih minat pada bidang agama, maka saat itu di kota Tanjungpinang ini, geliat agama tidak seperti sekarang, dulu nya belum ada pondok pesantren. Yang ada di Jawa atau pun di sumatera, tapi nampaknya, Ibuku gak akan rela anak nya baru tamat SD di lepas jauh-jauh. Sekolah Islam terpadu seperti SMP IT saat ini pun dulu nya belum ada. Makanya keinginan satu – satu nya ketika itu adalah masuk MTs N (Madrasah Tsanawiyah ).  Teman – teman di SD tak ada yang minat masuk ke Mts ini, apalagi teman di MDA, hanya aku seorang sahaja yang minat, padahal aku anak juara lah istilah nya pada waktu itu, tak lepas dari tiga besar di kelas walau tak juara umum,di kenal sebagai anak juara. Semua terheran-heran karena Mts ini adalah tempat anak – anak buangan istilah nya, anak – anak dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) rendah dan tak jebol masuk SMP negeri, maka  masuklah mereka ke Mtsn ini.

Teman – teman ku di SD sebagian besar masuk ke SMPN 1 dan SMP N 3 tepatnya di jalan tugu pahlawan, tak jauh dari SD kami,bisa juga berjalan kaki kesana, sementara jarak Mts dengan rumah ku 4 kilo, untuk masa dulu di kota Tanjungpinang ini jarak 4 kilo itu cukup  di katakan jauh, apalagi aku yang baru tamat  Sekolah Dasar. Akhirnya dari SD 005 kami bertiga yang masuk ke Mts ini, aku, alm Meliana dan yati  anak pak marzuki gharim mesjid at Taqwa, dengan yati ini aku tak begitu akrab sebab dari kelas satu sampai kelas 6 kami tak pernah sekelas.Dengan alm meliana ini pernah menjadi teman sebangku aku di kelas 6.
Dari putih merah  berganti putih dongker seragam sekolah, hari – hari di sekolah berjalan seperti anak-anak kebanyak. Aku tak bisa menceritakan secara detail setiap kisah di Mts ini, karena tak merekam dengan sangat kisah kisah dulu itu, walau ini sekolah tempat anak-anak buangan, tapi masih ada sebagian besar anak – anak mts ini  anak – anak berprilaku baik, prestasi ku dari Sekolah dasar juga berlanjut hingga ke Mts. Setiap Catur wulan (Cawu) aku tak lepas dari juara satu atau dua. Itu prestasi ku di kelas. Tapi sekolah ku ini, tak pernah mengadakan berbagai macam lomba, tak pernah pula mengutus siswa nya untuk mengikuti lomba, jadi kemampuan dan keberanian tampil di depan umum yang  ada pada diri ku semasa di MDA, lambat  laun menghilang.
Yang paling aku ingat saat itu, sewaktu aku kelas 3 di Mts, aku duduk di kelas 3 B, ada beberapa orang anak laki – laki, ngisap ganja di kelas kami di bangku belakang, tapi tak ada satu pun  yang peduli untuk melaporkan ke guru, termasuk aku. Dan ada pula beberapa anak perempuan membentuk geng. Mereka suka  mengutil di toko – toko buku, mengutil pena warna warni dan nanti nya di pakai bersama di kelas untuk menghiasi buku catatan.Tapi dari semua itu Alhamdulillah karunia Allah, Allah masih menjaga ku menjauhi aku dari pengaruh buruk sekumpulan-sekumpulan anak – anak seperti itu.
Lalu, ini adalah sebab musabab mengapa aku punya keinginan untuk sekolah  keluar provinsi Riau. Saat kami kelas 3, pelajaran matematika adalah pelajaran penting juga termasuk satu mata pelajaran yang di ikutkan dalam EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional), dalam seminggu ada 6 jam pertemuan pelajaran matematika ini, di tambah lagi trobosan (belajar tambahan) di siang hari selepas pulang sekolah. Bapak Matematika selalu memotivasi kami agar rajin belajar, mendapatkan NEM tinggi guna di terima di SMA favorit. SMA 1, SMA2 , STM  (SMK 3 ) dan SMEA 1 (yang sekaranng menjadi SMK 1).Nah begini kata guru ku “Kalian jika malas- malas belajar, nanti bakal masuknya kesebelah,”
Tahu nggak kawan, kalo MTs dan MAN (Madrasah Aliyah setingkat SMA) itu berdampingan sekolahnya bak pinang di belah dua. Jadi apa maksudnya jika malas belajar, akan masuk ke sebelah jua, berarti tak ada bedanya  kualitas, sekolah di sebelah kami ini dengan sekolah kami ini. Ha haha.. sama- sama tempat menampung anak-anak yang di terima di SMA negeri.
Sebagai seorang anak juara, tentunya aku gengsi dong masuk kesebelah, sementara ibu ku pernah berpesan jika nanti masuk MTs mesti lanjut masuk ke MAN. Ketika sebagian teman-teman  sudah menentukan pilihan mereka kemana melanjutkan sekolah. Aku masih belum ada jawaban.  Aku tak begitu ingat bagaimana aku punya keinginan untuk kesekolah di padang panjang. Apa barangkali itu Taqdir. Sedikit seingatku dulu, kakak sepupu ku yang saat ini sudah dan telah menikah dengan orang Malaysia juga Alumni dari MAN Koto Baru Padang Panjang, dia pernah bercerita masa-masa sekolah nya dulu. Waktu itu aku masih SD dan tidak memahami sangat kisah dia bertutur.  Ketika kakak sepupu kemalaysia ikut suaminya, aku pun masih kelas 1 mts, dan aku pun tak pernah berkomunikasi dengannya secara intens sejak saat itu, Yaaa, abang ku saat itu kuliah di UNAND Padang, aku bilang pada ibu ku pokoknya aku mau sekolah di Padang. Maka jadilah aku melanjutkan sekolah di Padang.
Bersambung


** tulisan ini bukan bermaksud menjelak – jelek kan sekolah ku dulu, namun itulah realitas yang terjadi saat itu. Dan itu dulu, kini perkembangan Islam semakin menggeliat di kota Kami, MAN dan Mts N yang aku dengar dari orang – orang saat ini tidak lah seperti dulu, kualitas sekarang sudah jauh  lebih baik dan juga menjadi sekolah Favorit.

You May Also Like

1 komentar

Terima Kasih Atas Kunjungannya